Minggu, 15 Desember 2019

Sejarah Alamiah Suatu Penyakit


Adanya sejarah alamiah dari suatu penyakit dapat dipakai secara cara dalam usaha pencegahan ataupun pengontrolan dari penyakit tersebut. Tingkatan dari sejarah alamiah suatu penyakit (natural history of disease) adalah:
1. Tingkat kepekaan (stage of susceptibility)
2. Tingkat sebelum sakit (stage of presymptomatic disease)
3. Tingkat sakit secara klinis (stage of clinical disease)
4. Tingkat kecacatan (stage of disability)

1. Tingkat Kepekaan (stage of susceptibility)

Pada tingkat ini, penyakit belum nampak namun telah ada suatu hubungan antara induk semang (host), penyebab penyakit (agent), dan kondisi lingkungan (environment). Adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara ketiga faktor tersebut akan menimbulkan suatu hal yang disebut faktor risiko (risk factors). Faktor risiko pada tingkat kepekaan ini dapat dipengaruhi berbagai hal antara lain: umur seseorang, jenis kelamin, gaya hidup seseorang (life style), keadaan budaya, dan lain-lain. Sebagai contoh adalah:
  • Seseorang (host) dalam kondisi sangat lelah disertai dengan konsumsi alkohol yang berlebihan (agent), maka akan memudahkannya dalam risiko menderita (risk factor) penyakit infeksi saluran pernafasan (pneumonia).
  • Seseorang yang berbadan gemuk dengan kadar kolesterol dan tekanan darah yang tinggi disertai merokok berat, maka orang itu akan berisiko mendapat serangan penyakit jantung koroner.   

2. Tingkat sebelum sakit (stage of presymptomatic disease)
Pada tingkat ini, penyakit juga masih belum nampak. Adanya faktor kepekaan dan interaksi antara Host, Agent, dan Environment akan timbul dan mulai nampak adanya perubahan-perubahan secara patologis. Walaupun demikian, perubahan-perubahan ini masih tetap berada di bawah garis yang disebut clinical horizon, yaitu garis perbatasan antara keadaan penyakit yang sudah jelas tanda-tandanya (secara klinis) dan terjadinya perubahan patologis.

Sebagai contoh misanya perubahan atherosklerostik pada pembuluh darah koroner, sebelum ada tanda-tanda stroke (mati mendadak).

 3. Tingkat sakit secara klinis (stage of clinical disease)
Pada tingkat ini terjadi perubahan secara anatomis dan fungsional. Adanya perubahan tersebut akan menimbulkan gejala dan tanda-tanda dari suatu penyakit. Pada tingkat sakit secara klinis ini, suatu penyakit dapat diklasifikasi misalnya berdasarkan lokasi, gambaran histologis, serta fungsionalnya (psychosocial).

4. Tingkat kecacatan (stage of disability)
Tingkat kecacatan dapat diartikan dalam beberapa pengertian. Definisi cacat menurut The National Health Survey Amerika Serikat adalah berkurangnya aktivitas seseorang secara sementara ataupun jangka panjang sebagai akibat terserang oleh penyakit akut atau kronis. Pengertian cacat dalam masyarakat berarti terbatasnya aktvitas yang dapat dilakukan seseorang, misalnya terbatasnya komunikasi seseorang karena tuli.

Ada penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa diberikan suatu pengobatan. Ada pula penyakit yang tetap berlangsung sampai lama walaupun sudah menjalani pengobatan dan dalam hal ini dapat menimbulkan kerusakan pada bagian tubuh dan akan memberikan kecacatan. Risiko dari keadaan tersebut adalah makin lamanya proses penyakit tersebut yang bisa menimbulkan cacat pada bagian tubuh tertentu.

Sebagai contoh: penyakit virus campak dapat sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi, jika kondisi penderita amat buruk dan tanpa pengobatan, maka akan dapat menimbulkan komplikasi radang otak.

Pengertian Sakit dan Sehat


Keadaan sakit merupakan akibat kesalahan adaptasi terhadap lingkungan (maladaptation) dan reaksi antara manusia dan sumber-sumber penyakit. Sakit berarti suatu keadaan yang memperlihatkan adanya keluhan dan gejala sakit secara subyektif dan obyektif, sehingga penderita tersebut memerlukan pengobatan untuk mengembalikan diri pada keadaan yang sehat.

Keadaan sakit sering dipakai untuk menilai tingkat kesehatan seseorang. Untuk mengetahui tingkat kesehatan tersebut, dapat dilakukan pengukuran-pengukuran nilai unsur tubuh, antara lain: mengukur berat badan, tekanan darah, frekuensi pernafasan, pemeriksaan cairan tubuh, dan lain-lain.   

Menurut World Health Organization (WHO), ‘sehat’ adalah suatu keadaan yang lengkap meliputi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata bebas dari penyakit dan cacat/kelemahan.

Anggota masyarakat yang sehat termasuk dalam model keadaan yang paling baik (high level wellness model). Dalam kata ‘model’ tersebut berorientasi pada upaya menyehatkan yang sakit, sedangkan konsep ‘keadaan baik’ berorientasi terutama untuk meningkatkan keadaan yang sudah baik. Konsep keadaan yang sudah baik ini berfokus pada unsur-unsur sebagai berikut:
1. kegiatan badaniah (physical activity)
2. kesadaran gizi (nutritional awareness)
3. pengelolaan tekanan/stres (stress management)
4. tanggung jawab mandiri (self responsibility)

Dalam konsep sehat WHO tersebut dharapkan adanya keseimbangan yang serasi dalam berinteraksi antara manusia dan makhluk hidup lain dengan lingkungannya. Sebagai konsekuensi dari konsep WHO tersebut, maka yang dikatakan manusia sehat adalah:
1. manusia yang tidak sakit
2. manusia yang tidak cacat
3. manusia yang tidak lemah
4. manusia yang bahagia secara rohani
4. manusia yang sejahtera secara sosial
5. manusia yang fit secara jasmani

Rabu, 16 September 2015

Tindakan yang Harus Dilakukan Polisi Untuk Mengurangi Kemacetan di Jakarta



Kemacetan di Jakarta kian bertambah parah. Oleh karena itu, polisi yang berperan sebagai pengatur lalu lintas dapat melakukan tindakan yang dapat mengurangi potensi penyebab kemacetan. Pihak kepolisian sebaiknya melakukan tindakan-tindakan berikut:

  1. Polisi tidak hanya melakukan ujian SIM kepada calon pengendara, namun memberikan pula pendidikan dan pelatihan berkendara sebelum memberikan SIM kepada semua pengendara kendaraan bermotor. Perilaku berkendara merupakan tindakan komunal atau kolektif. Perilaku satu orang akan direspon dan ditiru oleh orang lain yang menjadi tindakan seragam. Tindakan orang yang tidak diberi pendidikan berkendara cenderung adaptif dengan perubahan kondisi di jalan. Hal itulah yang menyebabkan kemacetan.
  2. Polisi mengatur lalu lintas di daerah perlintasan kereta yang ramai. Ketika palang pintu perlintasan kereta api ditutup, biasanya pengendara meluber ke sepanjang sisi jalan sehingga hanya menyisakan sedikit ruang atau bahkan tidak sama ada sama sekali bagi kendaraan yang berlawanan arah.
  3. Penertiban angkutan umum  yang berhenti di sembarang tempat, baik untuk ngetem, menjemput atau menurunkan penumpang di jalan.
  4. Polisi tidak melakukan penilangan di area yang mengganggu laju kendaraan, terutama kendaraan berukuran besar seperti truk atau trailer. Sebaiknya tindak lanjut penilangan kendaraan besar tersebut tidak dilakukan di jalan sehingga menganggu arus lalu lintas.
  5. Polisi sebaiknya segera menuntaskan lokasi terjadinya kecelakaan. Apalagi jika kecelakaan yang terjadi kontroversial sehingga menjadi arena tontonan baru. Massa yang membanjiri lokasi tersebut akan mengakibatkan kemacetan di jalan.
  6. Polisi berkoordinasi dengan penyelenggara suatu acara besar yang menyedot animo masyarakat agar dapat mengantisipasi lonjakan kendaraan yang melintas.
  7. Polisi juga berkoordinasi dengan pengembang atau pengelola suatu fasilitas umum agar membangun ruang parkir yang cukup menampung pengunjung. Parkir liar dapat seringkali menggunakan badan jalan sehingga mengurangi ruang bergerak kendaraan.
  8. Polisi dapat memberikan masukan mengenai tata guna lahan di suatu kawasan, sehingga di dalam penanganan masalah parkir harus pula diikuti dengan pengaturan mengenai tata guna lahan yang disesuaikan dengan arus lalu lintas di daerah tersebut.

Selasa, 15 September 2015

Mengistimewakan Angkutan Umum dan Pejalan Kaki

Sumber: Antara News


Di Indonesia, termasuk di Jakarta, perhatian kepada angkutan umum dan pejalan kaki terbilang minim padahal keberadaan angkutan umum dan akses pejalan kaki sangat berpengaruh terhadap besarnya volume kendaraan di jalan yang menjadi sumber kemacetan. Keengganan masyarakat menggunakan jasa angkutan umum biasanya disebabkan oleh ketidakjelasan informasi, harus berganti-ganti kendaraan, dan keamanan rendah. Masyarakat Jakarta juga enggan berjalan kaki karena belum membudaya, cuaca yang panas, kurang nyaman dan aman.  

Jenis angkutan umum yang melintasi Jakarta antara lain Trans Jakarta, Damri, Metro Mini, Kopaja, Bianglala, Mayasari Bakti, PPD, Pahala Kencana, APTB, KMK, dan mikrolet. Agar dapat meningkatkan pamor angkutan umum sebagai moda transportasi yang menarik, polisi sebaiknya memberikan prioritas kepada angkutan umum.

Pertama, pada jam rawan kemacetan, angkutan umum mendapat prioritas memanfaatkan jalur busway. Dengan demikian, angkutan umum relatif terhindar dari macet. Namun keistimewaan ini diberikan dengan syarat kendaraan yang melintasi busway tidak boleh ngetem di luar pemberhentian yang sepatutnya.  

Kedua keistimewaan angkutan umum saat kondisi jalan ditutup. Di Jakarta, penutupan jalan utama sering terjadi. Oleh karena itu, polisi dapat memberikan pengecualian kepada angkutan umum tertentu agar dapat melintasi jalan tersebut sehingga pengguna kendaraan pribadi dapat beralih ke kendaraan umum.

Ketiga, aplikasi angkutan umum juga akan menjadi daya tarik angkutan umum. Di era digital dewasa ini, semua informasi bisa didapat hanya dengan membuka internet. Pihak kepolisian tidak harus mengembangkan aplikasi angkutan umum sendiri, namun dapat bekerja sama dengan pengembang yang sudah ada dengan meng-update informasi lalu lintas. Kejelasan informasi tersebut dapat membantu masyarakat dalam memanfaatkan jasa angkutan umum.

Sedangkan bagi pejalan kaki, keistimewaan dalam berlalu lintas terutama dalam menyeberang jalan yang ramai. Sebaiknya seluruh persimpangan utama di Jakarta memberlakukan perhentian serentak di semua sisi persimpangan untuk memberikan prioritas bagi pejalan kaki agar menyeberang dengan cepat di semua sisi. Selain itu, polisi sebaiknya mengembalikan fungsi utama trotoar sebagai akses pejalan kaki yang bersih dari pedagang atau parkir liar.

Sabtu, 12 September 2015

Kemacetan dan Opsi Rekayasa Lalu Lintas

Sumber: viva.co.id


Sejak manusia memanfaatkan kuda sebagai moda transportasi, sejak saat itu pula lalu lalang kendaraan menjadi salah satu masalah yang timbul di jalan. Seiring dengan berkembangnya jalan dan kendaraan, masalah lalu lintas semakin kompleks yang membutuhkan penanganan tersendiri. Termasuk kemacetan yang melanda kota besar seperti Jakarta.

Kemacetan dipicu oleh padatnya jumlah kendaraan yang menggunakan akses jalan. Pembangunan fisik jalan menjadi tanggung jawab Dinas PU atau Bina Marga, sedangkan manajemen lalu lintas merupakan wewenang Dinas Perhubungan atau DLLAJ, sementara pengaturan berlalu lintas menjadi tugas kepolisian, terutama polisi lalu lintas. Oleh karena itu, dari sisi kepolisian, kapasitas jalan maupun manajemen lalu lintas menjadi faktor yang given, sedangkan polisi dapat mengatasi kemacetan dengan pengaturan lalu lintas, salah satunya melalui rekayasa lalu lintas.

Pertama, mengenalkan jalur alternatif. Kondisi jalan di Jakarta tidak hanya berupa jalan besar atau jalan arteri, terdapat pula jalan-jalan alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk memotong rute jalan. Mengenalkan jalan-jalan alternatif dapat mengurangi kepadatan lalu lintas kepada pengendara yang menuju sebuah titik. 

Kedua, mengelompokkan kendaraan sejenis. Di jalan raya terdapat beberapa tipe kendaraan yang dapat diklasifikasikan menjadi motor, mobil pribadi, angkutan umum, dan kendaraan besar yang berjalan lambat. Mendekati jam-jam sibuk, perlu dilakukan rekayasa bagi kendaraan besar agar tidak berebut jalan dengan kendaraan pribadi dan umum. Karena pada kondisi seperti itu, pengemudi menjadi lebih agresif untuk merebut menguasai setiap ruang jalan yang memungkinkan. Hal ini mengandung risiko yang cukup tinggi untuk terjadi saling menutup dan saling mengunci antarkendaraan sehingga terjadi keadaan macet total.

Ketiga, mengembangkan aplikasi Traffic Management berbasis internet (android atau iOS) yang memberikan situasi perkembangan lalu lintas secara real time. Informasi ini memuat situasi lalu lintas dan alternatif jalan yang memudahkan pengendara dalam menghindari arus yang padat.

Keempat, polisi sebaiknya berkoordinasi dengan pihak penyelenggara acara yang menyedot animo masyarakat sehingga polisi lalu lintas dapat merekayasa arus jalan lebih dini untuk mengurangi potensi kemacetan.

Kemacetan dan Etika Berlalu Lintas


Kebutuhan akan mobilitas sudah menjadi hal yang lumrah di dalam masyarakat kota yang dinamis. Yang menjadi sumber masalah adalah bagaimana cara dan perilaku selama melakukan mobilitas tersebut. Semakin besar sebuah kota, semakin agresif pula pengendaranya dalam memanfaatkan ruang jalan agar sampai di tujuan dengan cepat. Akibatnya, mereka acapkali mengesampingkan keselamatan dan kenyamanan bersama.

Kemacetan dapat menimbulkan stress orang yang berada di jalanan, sementara yang menyebabkan kemacetan adalah perilaku dari pengendara sendiri dan sesama pengguna jalan. Berdasarkan Anatomi Kemacetan yang dikeluarkan oleh Departemen PU (2009), penyebab kemacetan yang diakibatkan oleh situasi jalan raya yaitu perilaku penguna jalan dan penegakan hukum yang lemah. Hal ini juga menjadi perhatian Kepolisian, dimana salah satu dari 8 Quick Wins Polri memuat peran polisi sebagai penggerak revolusi mental dan pelopor tertib sosial di ruang publik.

Agar mencapai hal tersebut, hal pertama yang dilakukan polisi yaitu terus mengupayakan penanaman etika berlalu lintas kepada pengguna jalan. Berkendara yang baik memerlukan pengetahuan, pengalaman, dan etika berkendara. Mengendarai kendaraan bermotor hanya butuh waktu beberapa jam, tetapi untuk dapat disebut sebagai pengemudi yang baik memerlukan waktu yang lama untuk berlatih. Dengan demikian, pengemudi tersebut harus mendapatkan pengetahuan, mengetahui etika, dan merasakan pengalaman berlalu lintas yang tertib dan nyaman.

Kedua, polisi harus selalu mengawal arus lalu lintas, terutama di waktu-waktu rawan kemacetan. Perilaku pengguna jalan masih bergantung kehadiran dan ketegasan polisi dalam mengatur arus lalu lintas. Mayoritas pengendara menjalankan tertib berlalu lintas bukan atas kesadaran pribadi, tetapi takut berhadapan dengan polisi. Oleh sebab itu, kehadiran petugas lalu lintas masih sangat memengaruhi ketertiban lalu lintas di jalan.

Terakhir, polisi sebaiknya mengampanyekan gerakan ‘to move inside the box’. Dalam mengatasi masalah seringkali digunakan pola berpikir di luar kebiasaan atau to think out of the box. Di dalam berlalu lintas, justru harus diterapkan pola bergerak di dalam kotak, atau to move inside the box. Artinya, bergerak secara tertib sesuai dengan peraturan dan norma berlalu lintas yang berlaku. 

Rabu, 28 Januari 2015

Resolusi Hijau 2015: Aku, Lingkungan, dan Motivasi

Meskipun tahun baru sudah hampir lewat sebulan, tak ada salahnya menetapkan kembali capaian yang ingin saya raih tahun ini, atau lebih fasihnya, resolusi tahunan. Laiknya visi misi, resolusi saya juga meliputi segala dimensi, tetapi dalam tulisan ini saya hanya memfokuskan pada resolusi yang berkaitan dengan lingkungan. Ya, Resolusi Hijau!

Kepedulian pada lingkungan bukan pertama kali ini saya laksanakan, namun seperti sebuah tanaman yang harus terus dipupuk, disiram, dipangkas, serta diatur pencahayaannya agar tumbuh optimal. Tidak banyak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, resolusi saya tahun ini antara lain:

Resolusi Pertama: Penghematan penggunaan alat-alat elektronik dan energi di rumah
Sebagai seorang penulis, kehidupan saya lebih banyak dihabiskan di depan laptop atau tablet, wifi menyala sepanjang hari, dan kertas print yang menumpuk. Menulis di beranda dan menikmati semilir angin pepohonan barangkali akan lebih banyak saya lakukan daripada mengurung diri di kamar dengan ditemani pendingin ruangan. Untuk menghemat kertas, saya akan mengurangi keinginan untuk mencetak setiap draf tulisan. Hal ini sebelumnya cukup sulit karena saya merasa lebih teliti dan detail ketika membacanya dalam bentuk draf cetak. Selama beberapa bulan ini saya berusaha mengurangi kebiasaan tersebut dan tahun ini saya akan berjuang lebih keras lagi. Sebelum menuangkan ide di laptop/tablet, saya akan berusaha menyusun skema dan outline lebih rinci sehingga tidak banyak memakan waktu di depan laptop/tablet. Kemudian mendaur ulang kertas draf bekas menjadi notes.

Resolusi Kedua: Menghemat penggunaan bahan bakar dengan lebih banyak memanfaatkan kendaraan umum dan berjalan kaki
Alasan pertama dulunya karena memang penghematan bahan bakar. Namun setelah melakoninya secara kontinyu, saya banyak menemukan manfaat lainnya. Dengan menumpang kendaraan umum, saya lebih banyak menemukan inspirasi di jalan, mulai dari obrolan sesama penumpang, celotehan kondektur, sampai pemandangan di jalan. Selain itu, karena tak perlu menyetir sendiri, saya lebih fokus dan badan tidak terlalu capek.

Jika saya sedang berbelanja, saya lebih memilih untuk memarkir kendaraan di suatu tempat, lalu berkeliling dengan berjalan kaki. Selain menghemat bahan bakar, saya juga lebih menghemat waktu. Kegiatan ini biasanya juga saya lakukan sebagai active rest ketika badan terasa lelah setelah bepergian. Active rest (beristirahat dengan melakukan gerakan aktif) justru lebih efektif menghilangkan rasa capek dibandingkan dengan tidur (disebut passive rest) sebab aliran darah dan oksigen menjadi lebih lancar jika kita melakukan gerakan ringan. Dengan begitu, saya bisa melakukan memenuhi beberapa tujuan sekaligus: menghemat bahan bakar, mengurangi emisi dan polusi, sekaligus menyehatkan diri.


Resolusi Ketiga: Mencari dan menerapkan konsep rumah ramah lingkungan ketika melakukan renovasi rumah
Tahun ini kami berencana untuk merenovasi rumah dan ini merupakan saat yang tepat untuk mengaplikasikan konsep rumah yang ramah lingkungan. Hal yang mendasar yakni masalah ventilasi, sanitasi, tandon air, dan ruang hijau. Dengan konsep rumah ramah lingkungan, awalnya kami memang akan lebih repot karena harus mencari informasi lebih detail, menentukan desain dan material, juga mencari tukang yang tepat. Namun jangka panjangnya kami akan mendapati rumah yang nyaman, sejuk, dan lebih terasa homey.

Resolusi Keempat: Menjaga diri dari perilaku merusak lingkungan ketika berwisata
Mengapa saya harus menyebut tempat wisata secara spesifik? Karena obyek favorit saya selalu berhubungan dengan alam. Sangat mungkin keteledoran saya dapat menjadi sumber kerusakan bagi ekosistem flora-fauna dan mengakibatkan kerugian bagi penduduk di sekitarnya.

Obyek favorit saya adalah panorama laut. Biasanya saya melakukan snorkeling, bermain-main di pasir, makan seafood di pinggir laut, menyewa perahu dan berkeliling lokasi wisata.
Saat snorkeling, rasanya gemas melihat terumbu karang dengan warna-warna yang cantik. Saya ingin sekali mengambilnya dan menjadikan koleksi. Namun suatu saat, saya membaca artikel Terumbu Karang Peredam dan Adaptasi Bencana, yang menyebutkan kemampuan terumbu karang dalam meredam energi gelombang laut rata-rata mencapai 97%. Salah satu penelitinya, Dr. Michael Beck dari The Nature Conservancy (TNC) menambahkan bahwa terumbu karang berfungsi sebagai lini pertahanan pertama kawasan pesisir dalam menahan terjangan ombak, badai, dan kenaikan permukaan laut. Di samping itu, Indonesia adalah negara yang paling diuntungkan dalam perlindungan terumbu karang tersebut. Membaca laman tersebut, rasa 'ingin-ingin' saya untuk mengoleksi terumbu karang langsung berubah drastis. Hasrat saya tersebut bisa membawa petaka.

Selain itu, di tempat wisata, laut khususnya, keberadaan tempat sampah amat langka ditemui. Pengunjung lebih sering membuang sampah di sepanjang pantai atau melemparkannya ke laut. Oleh sebab itu, saya selalu menyimpan sampah saya sampai bertemu dengan tempat saya. Masalah ini terlihat sepele, namun isu vandalisme dan sampah selalu menjadi poin kritis yang menghiasi aksi dan kolom berita lingkungan.


Resolusi Kelima: Lebih aktif dalam menyebarkan semangat peduli lingkungan
Sendiri itu sunyi. Sendiri gampang mati.
Aktivitas yang saya lakukan tanpa melibatkan keluarga dan orang-orang di sekitar hanya akan berdampak minor, pun saya juga lebih cepat patah semangat. Oleh karena itu, saya akan lebih aktif dalam melakukan persuasi masalah lingkungan dan memasukkan aspek lingkungan dalam bahasan tulisan saya.

Resolusi Keenam: Selalu memperbarui motivasi dengan lebih banyak membaca artikel bertajuk kepedulian lingkungan, artikel-artikel pendukung, dan menikmati segala proses selama melaksanakan resolusi yang diikrarkan
Suatu tanaman, tanpa perhatian dan perawatan yang kontinyu akan layu dan mati. Begitu pula resolusi yang saya ikrarkan akan runtuh seiring berjalannya waktu. Pada dasarnya, resolusi beralaskan kebulatan tekad untuk melaksanakan sesuatu. Untuk mencapai tahap ini (kebulatan tekad) rasanya sulit dilakukan secara buta dan tanpa alasan yang jelas. Oleh karena itu, saya harus terus memperbarui motivasi saya agar resolusi tersebut konsisten, tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi supaya menjadi agenda rutin dan targetnya terus ditingkatkan. Salah satu upayanya dengan semakin rajin membaca berita dan artikel yang bermuatan perbaikan lingkungan. Salah satu portal inspiratif adalah milik The Nature Conservancy Program Indonesia (TNCPI) yang peduli dengan masalah lingkungan dunia dan memiliki program di Indonesia. Membaca kegiatan dan informasi yang dirilis TNCPI semakin membuka wawasan saya tentang aspek lingkungan di Indonesia.
Di samping topik lingkungan, saya juga akan lebih banyak membaca topik lain seperti kesehatan, arsitektur, ekonomi, dan sebagainya. Misalnya dengan mengetahui active rest di atas, saya lebih dapat menikmati naik kendaraan umum dan berjalan kaki karena tindakan itu selain bermanfaat bagi lingkungan juga menunjang kesehatan saya.

Bagi saya pribadi, motivasi ini sangat penting untuk semakin meyakinkan bahwa tindakan yang selama ini saya lakukan adalah benar, malah saya dapat memetik manfaat tambahan.