Senin, 01 Desember 2014

Ide Spot Wisata Suramadu

Jembatan Suramadu, jembatan penghubung antara Kota Surabaya dan Pulau Madura ini telah menjadi ikon wisata baru di Jawa Timur. Pengunjung tidak hanya berasal dari sekitar Surabaya-Madura saja, tapi tidak sedikit pengunjung luar daerah yang menyempatkan diri menikmati jembatan terpanjang di Indonesia ini. Sayangnya, spot (obyek) wisata di Suramadu tidak bervariasi. Wisatawan hanya disajikan pemandangan Jembatan Suramadu dan kalau ingin wisata kuliner yang menjanjikan hanya kuliner bebek. Di sini saya akan mengajukan beberapa spot wisata baru yang bisa dikembangkan di sekitar wilayah Jembatan Suramadu. Ide ini saya dapat ketika melakukan perjalanan ke beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri.

1. Restoran Apung
Konsep restoran apung ini sebenarnya adalah kapal yang direnovasi dan dialihfungsikan menjadi tempat makan. Pengunjung dapat menikmati santapan sambil berlayar di sekitar jembatan Suramadu. Untuk menghindari mabuk laut, saat pengunjung sedang makan, kapal masih merapat. Baru setelah semua pengunjung selesai menikmati hidangan, restoran ini memberi servis dengan mengajak berlayar ke sekitar Jembatan Suramadu. Suasana makan menjadi terasa lebih nikmat. Pengunjung juga dapat berfoto dari atas kapal dan menikmati pemandangan Jembatan Suramadu dari angle yang berbeda. 
Di malam hari, restoran ini menjadi pemandangan menarik bagi pengunjung di darat. Restoran ini dihiasi lampu warna-warni sehingga terlihat cantik ketika kapal-kapal restoran tersebut tengah berlayar.

2. Konohana Garten ala Suramadu
Konohana Garten adalah buffet restaurant di Oita, Jepang. Uniknya, restoran ini hanya menyajikan menu lokal masyarakat Oita dan bahan makanannya juga berasal dari wilayah setempat. Restoran ini tidak hanya sebagai tempat makan, tapi juga berfungsi sebagai display dan promosi bahan lokal. Di Suramadu juga dapat mengadopsi konsep ini, namun dengan penyesuaian, misalnya berbentuk Pujasera (Pusat Jajanan Selera Rakyat). Menunya berasal dari lokal Surabaya dan Madura dan bahannya pun memakai bahan wilayah asal.
Sepintas, konsep ini biasa-biasa saja, tapi efek rantainya cukup besar. Sebagai contoh, nasi yang disajikan di Konohana Garten berasal dari beras Oyama. Nasi ini rasanya nikmat sehingga beras dari wilayah Oyama menjadi terkenal dan permintaannya meningkat. Tetapi menurut pengakuan local guide kami, beras Oyama sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan beras wilayah lain, hanya saja penggunaannya di Konohana Garten mengangkat image-nya menjadi jenis beras unggulan.
Pujasera di Suramadu juga diharuskan menggunakan bahan asal. Misalnya nasi jagung khas madura, maka jagungnya harus berasal dari Madura. Hal ini merepotkan di awal karena sebenarnya jagung bisa didapat di mana-mana. Namun, hal ini akan menggeliatkan produksi jagung di Madura dan mendongkrak image jagung Madura. Hal ini dapat memunculkan branding produk, "ingat jagung, ingat Madura". Begitu juga dengan barang-barang lainnya.

3. Museum Suramadu
Museum Suramadu berfungsi sebagai wisata edukasi yang menceritakan fragmen sejarah dan proses pembangunan Jembatan Suramadu.
Bagi saya pribadi, museum merupakan spot favorit ketika mengunjungi tempat baru. Di antara museum-museum yang pernah saya kunjungi, Nanyue King Museum di Guangzhou, Tiongkok yang paling berkesan. Selain menampilkan koleksi sejarah, museum ini juga mengemas sejarah dalam bentuk animasi/grafis.
Jika diaplikasikan di Museum Suramadu, misalnya penjelasan perencanaan jembatan, daripada berupa deretan tulisan yang panjang, akan lebih menarik apabila dirangkum dalam animasi berdurasi pendek. Contoh lainnya, proses pembangunan jembatan. Dengan demikian, pengunjung mendapat gambaran yang lebih detail dan menarik. Animasi terakhir (sebelum pengunjung keluar) menyelipkan pesan moral dan himbauan bagi pengunjung agar turut menjaga jembatan Suramadu. Harapannya, setelah mengunjungi Museum Suramadu, pengunjung tidak hanya mengagumi jembatan Suramadu melainkan juga lebih menghargai keberadaan jembatan fenomenal ini.


Obyek wisata, selain memanjakan pengunjung, seyogianya turut menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar lokasi dan juga memberikan nilai edukasi. Oleh karena itu, ide spot wisata yang saya usulkan diutamakan yang menggunakan produk domestik dan dikemas dengan cara yang menarik.
Selain spot-spot wisata, hal yang penting adalah promosi dan informasi. Sebagus dan semenarik apapun suatu obyek wisata, tanpa kedua hal tersebut wisatawan menjadi kurang tertarik.
Wisatawan dari luar kota, begitu tiba di sarana transportasi (bandara, stasiun, terminal) langsung disambut dengan iklan Jembatan Suramadu, baik berupa poster, baliho, ataupun video. Sambutan iklan yang menarik akan membuat pengunjung berusaha memasukkan obyek wisata tersebut ke dalam agendanya.