Rabu, 28 Januari 2015

Resolusi Hijau 2015: Aku, Lingkungan, dan Motivasi

Meskipun tahun baru sudah hampir lewat sebulan, tak ada salahnya menetapkan kembali capaian yang ingin saya raih tahun ini, atau lebih fasihnya, resolusi tahunan. Laiknya visi misi, resolusi saya juga meliputi segala dimensi, tetapi dalam tulisan ini saya hanya memfokuskan pada resolusi yang berkaitan dengan lingkungan. Ya, Resolusi Hijau!

Kepedulian pada lingkungan bukan pertama kali ini saya laksanakan, namun seperti sebuah tanaman yang harus terus dipupuk, disiram, dipangkas, serta diatur pencahayaannya agar tumbuh optimal. Tidak banyak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, resolusi saya tahun ini antara lain:

Resolusi Pertama: Penghematan penggunaan alat-alat elektronik dan energi di rumah
Sebagai seorang penulis, kehidupan saya lebih banyak dihabiskan di depan laptop atau tablet, wifi menyala sepanjang hari, dan kertas print yang menumpuk. Menulis di beranda dan menikmati semilir angin pepohonan barangkali akan lebih banyak saya lakukan daripada mengurung diri di kamar dengan ditemani pendingin ruangan. Untuk menghemat kertas, saya akan mengurangi keinginan untuk mencetak setiap draf tulisan. Hal ini sebelumnya cukup sulit karena saya merasa lebih teliti dan detail ketika membacanya dalam bentuk draf cetak. Selama beberapa bulan ini saya berusaha mengurangi kebiasaan tersebut dan tahun ini saya akan berjuang lebih keras lagi. Sebelum menuangkan ide di laptop/tablet, saya akan berusaha menyusun skema dan outline lebih rinci sehingga tidak banyak memakan waktu di depan laptop/tablet. Kemudian mendaur ulang kertas draf bekas menjadi notes.

Resolusi Kedua: Menghemat penggunaan bahan bakar dengan lebih banyak memanfaatkan kendaraan umum dan berjalan kaki
Alasan pertama dulunya karena memang penghematan bahan bakar. Namun setelah melakoninya secara kontinyu, saya banyak menemukan manfaat lainnya. Dengan menumpang kendaraan umum, saya lebih banyak menemukan inspirasi di jalan, mulai dari obrolan sesama penumpang, celotehan kondektur, sampai pemandangan di jalan. Selain itu, karena tak perlu menyetir sendiri, saya lebih fokus dan badan tidak terlalu capek.

Jika saya sedang berbelanja, saya lebih memilih untuk memarkir kendaraan di suatu tempat, lalu berkeliling dengan berjalan kaki. Selain menghemat bahan bakar, saya juga lebih menghemat waktu. Kegiatan ini biasanya juga saya lakukan sebagai active rest ketika badan terasa lelah setelah bepergian. Active rest (beristirahat dengan melakukan gerakan aktif) justru lebih efektif menghilangkan rasa capek dibandingkan dengan tidur (disebut passive rest) sebab aliran darah dan oksigen menjadi lebih lancar jika kita melakukan gerakan ringan. Dengan begitu, saya bisa melakukan memenuhi beberapa tujuan sekaligus: menghemat bahan bakar, mengurangi emisi dan polusi, sekaligus menyehatkan diri.


Resolusi Ketiga: Mencari dan menerapkan konsep rumah ramah lingkungan ketika melakukan renovasi rumah
Tahun ini kami berencana untuk merenovasi rumah dan ini merupakan saat yang tepat untuk mengaplikasikan konsep rumah yang ramah lingkungan. Hal yang mendasar yakni masalah ventilasi, sanitasi, tandon air, dan ruang hijau. Dengan konsep rumah ramah lingkungan, awalnya kami memang akan lebih repot karena harus mencari informasi lebih detail, menentukan desain dan material, juga mencari tukang yang tepat. Namun jangka panjangnya kami akan mendapati rumah yang nyaman, sejuk, dan lebih terasa homey.

Resolusi Keempat: Menjaga diri dari perilaku merusak lingkungan ketika berwisata
Mengapa saya harus menyebut tempat wisata secara spesifik? Karena obyek favorit saya selalu berhubungan dengan alam. Sangat mungkin keteledoran saya dapat menjadi sumber kerusakan bagi ekosistem flora-fauna dan mengakibatkan kerugian bagi penduduk di sekitarnya.

Obyek favorit saya adalah panorama laut. Biasanya saya melakukan snorkeling, bermain-main di pasir, makan seafood di pinggir laut, menyewa perahu dan berkeliling lokasi wisata.
Saat snorkeling, rasanya gemas melihat terumbu karang dengan warna-warna yang cantik. Saya ingin sekali mengambilnya dan menjadikan koleksi. Namun suatu saat, saya membaca artikel Terumbu Karang Peredam dan Adaptasi Bencana, yang menyebutkan kemampuan terumbu karang dalam meredam energi gelombang laut rata-rata mencapai 97%. Salah satu penelitinya, Dr. Michael Beck dari The Nature Conservancy (TNC) menambahkan bahwa terumbu karang berfungsi sebagai lini pertahanan pertama kawasan pesisir dalam menahan terjangan ombak, badai, dan kenaikan permukaan laut. Di samping itu, Indonesia adalah negara yang paling diuntungkan dalam perlindungan terumbu karang tersebut. Membaca laman tersebut, rasa 'ingin-ingin' saya untuk mengoleksi terumbu karang langsung berubah drastis. Hasrat saya tersebut bisa membawa petaka.

Selain itu, di tempat wisata, laut khususnya, keberadaan tempat sampah amat langka ditemui. Pengunjung lebih sering membuang sampah di sepanjang pantai atau melemparkannya ke laut. Oleh sebab itu, saya selalu menyimpan sampah saya sampai bertemu dengan tempat saya. Masalah ini terlihat sepele, namun isu vandalisme dan sampah selalu menjadi poin kritis yang menghiasi aksi dan kolom berita lingkungan.


Resolusi Kelima: Lebih aktif dalam menyebarkan semangat peduli lingkungan
Sendiri itu sunyi. Sendiri gampang mati.
Aktivitas yang saya lakukan tanpa melibatkan keluarga dan orang-orang di sekitar hanya akan berdampak minor, pun saya juga lebih cepat patah semangat. Oleh karena itu, saya akan lebih aktif dalam melakukan persuasi masalah lingkungan dan memasukkan aspek lingkungan dalam bahasan tulisan saya.

Resolusi Keenam: Selalu memperbarui motivasi dengan lebih banyak membaca artikel bertajuk kepedulian lingkungan, artikel-artikel pendukung, dan menikmati segala proses selama melaksanakan resolusi yang diikrarkan
Suatu tanaman, tanpa perhatian dan perawatan yang kontinyu akan layu dan mati. Begitu pula resolusi yang saya ikrarkan akan runtuh seiring berjalannya waktu. Pada dasarnya, resolusi beralaskan kebulatan tekad untuk melaksanakan sesuatu. Untuk mencapai tahap ini (kebulatan tekad) rasanya sulit dilakukan secara buta dan tanpa alasan yang jelas. Oleh karena itu, saya harus terus memperbarui motivasi saya agar resolusi tersebut konsisten, tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi supaya menjadi agenda rutin dan targetnya terus ditingkatkan. Salah satu upayanya dengan semakin rajin membaca berita dan artikel yang bermuatan perbaikan lingkungan. Salah satu portal inspiratif adalah milik The Nature Conservancy Program Indonesia (TNCPI) yang peduli dengan masalah lingkungan dunia dan memiliki program di Indonesia. Membaca kegiatan dan informasi yang dirilis TNCPI semakin membuka wawasan saya tentang aspek lingkungan di Indonesia.
Di samping topik lingkungan, saya juga akan lebih banyak membaca topik lain seperti kesehatan, arsitektur, ekonomi, dan sebagainya. Misalnya dengan mengetahui active rest di atas, saya lebih dapat menikmati naik kendaraan umum dan berjalan kaki karena tindakan itu selain bermanfaat bagi lingkungan juga menunjang kesehatan saya.

Bagi saya pribadi, motivasi ini sangat penting untuk semakin meyakinkan bahwa tindakan yang selama ini saya lakukan adalah benar, malah saya dapat memetik manfaat tambahan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar