Selasa, 14 Januari 2020

Soal Latihan Ciri-Ciri Makhluk Hidup


Soal Latihan Ciri-Ciri Makhluk Hidup

1.      Pada saat udara panas, tubuh kita akan mengeluarkan keringat. Peristiwa ini merupakan salah satu ciri makhluk hidup yaitu ….
A. ekskresi
B. adaptasi
C. respirasi
D. reproduksi

2.      Pada waktu sore hari, daun lamtoro tampak mengatup. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuhan memiliki ciri ….
A. tumbuh
B. bernapas
C. bergerak
D. berkembang

3.      Daun putri malu mengatup ketika disentuh. Peristiwa ini menunjukkan bahwa tumbuhan juga ….
A. membutuhkan makanan
B. peka terhadap rangsangan
C. mengeluarkan zat sisa
D. bergerak aktif

4.      Pernyataan yang menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup memiliki ciri bergerak adalah ….
A. seekor ular mengeluarkan bisa
B. telur ayam menetas setelah dierami selama 21 hari
C. tumbuhan akan mengeluarkan getah apabila dipangkas
D. daun putri malu akan mengatup apabila disentuh

5.      Manakah di antara pernyataan berikut yang menunjukkan bahwa makhluk hidup melakukan respirasi?
A. kucing mengejar tikus untuk memangsanya
B. ikan menggunakan insangnya untuk mengambil oksigen
C. bunglon berubah warna menyesuaikan lingkungannya
D. cumi-cumi mengeluarkan zat tinta untuk mengelabui musuhnya

6.      Manakah pernyataan berikut yang menunjukkan contoh adaptasi tumbuhan?
A. biji berkecambah menjadi tumbuhan
B. pohon jati menggugurkan daunnya ketika musim kemarau panjang
C. batang tanaman singkong dipotong-potong kemudian ditanam menjadi tanaman baru
D. tumbuhan hijau mengolah zat anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis

7.      Perhatikan gambar berikut!


Gambar tersebut menunjukkan bahwa makhluk hidup memiliki ciri ….
A. bernapas
B. makan
C. berkembang
D. tumbuh

8.      Sebuah tanaman dalam pot ditutup kertas karbon yang diberi lubang pada salah satu sisinya seperti tampak pada gambar.
        
Percobaan tersebut membuktikan bahwa makhluk hidup memiliki ciri ….
A. tumbuh, menanggapi rangsang, dan bergerak
B. tumbuh, berkembang, dan berkembang biak
C. bergerak, makan, dan mengeluarkan zat sisa
D. menanggapi rangsang, menyesuaikan diri, dan makan

9.      Perhatikan gambar berikut!
        
Gambar tersebut menunjukkan bahwa makhluk hidup memiliki ciri ….
A. berkembang biak
B. memiliki iritabilitas
C. memerlukan nutrisi
D. mengalami pertumbuhan

10.   Gambar di bawah ini menunjukkan salah satu ciri makhluk hidup, yaitu ….

A. beradaptasi
B. tumbuh dan berkembang
C. berkembang biak
D. peka terhadap rangsang

11.   Gambar berikut menunjukkan tumbuhan putri malu.
Ketika daun tumbuhan putri malu disentuh akan terjadi peristiwa yang menunjukkan salah satu ciri makhluk hidup yaitu ….
A. berkembang biak
B. peka terhadap rangsang
C. tumbuh dan berkembang
D. menyesuaikan diri

12.   Perhatikan gambar berikut!
        
Ciri makhluk hidup yang ditunjukkan gambar di atas adalah ….
A.  peka terhadap rangsang
B. berkembang biak
C. tumbuh dan berkembang
D. memerlukan makanan

13.   Perhatikan gambar berikut ini!
        
Salah satu ciri makhluk hidup yang ditunjukkan adalah ….
A. peka terhadap rangsang
B. memerlukan makan
C. tumbuh dan berkembang
D. berkembang biak

14.   Manakah di antara kegiatan berikut yang menunjukkan ciri makhluk hidup?
A. burung bertengger di pohon
B. manusia mencerna makanan menggunakan enzim
C. ganggang di laut bergerak mengikuti gerakan ombak
D. pohon manga tumbuh tinggi dan besar

15.   Iritabilitas merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Contoh iritabilitas pada tumbuhan ditunjukkan oleh ….
A. mengatupnya daun putri malu apabila disentuh
B. mekarnya bunga mawar di pagi hari
C. keluarnya tetesan air dari ujung daun keladi
D. membelitnya sulur tanaman mentimun pada batang bambu

16.   Aktivitas berikut yang menggambarkan ciri makhluk hidup adalah ….
A. daun pisang bergerak ditiup angina
B. katak hidup bergerombol di dalam kolam
C. tumbuhan memerlukan CO2 untuk fotosintesis
D. manusia mengisap O2 dan mengeluarkan CO2

17.   Kegiatan yang menunjukkan ciri tumbuh pada makhluk hidup adalah ….
A. tumbuhan bertambah tinggi
B. bunga tumbuhan berubah menjadi buah
C. tanaman pisang bertunas
D. amoeba dan paramaecium membelah diri

18.   Ciri makhluk hidup yang menunjukkan makhluk hidup bernapas adalah ….
A. tunas tumbuh ke arah cahaya
B. lumba-lumba muncul ke permukaan air secara periodik
C. manusia mengeluarkan keringat
D. mengatupnya daun putri malu setelah disentuh

19.   Manakah aktivitas makhluk hidup di bawah ini yang menunjukkan ciri makhluk hidup memerlukan makan?
A. kupu-kupu mengisap madu
B. kerbau berkubang di lumpur
C. rusa berlari kencang di padang rumput
D. burung jalak bali berkicau dengan merdu

20.   Manakah kegiatan makhluk hidup yang menunjukkan ciri peka terhadap rangsang?
A. paus berenang dengan siripnya
B. lumba-lumba sering muncul ke permukaan air
C. daun putri malu menguncup jika disentuh
D. spiroyra melakukan konjugasi



Senin, 13 Januari 2020

Pengamatan Gejala Alam Biotik dan Abiotik



Di sekitar kita banyak sekali terlihat gejala alam yang menarik untuk dipelajari. Pada prinsipnya, gejala alam dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni gejala alam biotik dan gejala alam abiotik. Untuk mengamati kedua gejala tersebut diperlukan alat dan metode tertentu, misalnya mikroskop, kertas lakmus, dan lain-lain.

Gejala alam biotik adalah gejala alam yang ditunjukkan oleh makhluk hidup. Misalnya:
1. Tanaman berfotosintetis.
2. Serangga yang sedang menghisap nektar bunga.
3. Petani sedang menanam padi.

Gejala alam abiotik adalah gejala alam yang ditunjukkan oleh benda tidak bernyawa atau benda mati. Misalnya:
1. Air sungai yang keruh karena terkena limbah pabrik.
2. Lubang ozon karena polusi kendaraan dan cerobong asap.
3. Siklus hujan.

Langkah-langkah dalam menggunakan metode ilmiah sebagai berikut:
1. Menemukan masalah.
2. Observasi melalui pengamatan dan pengumpulan data.
3. Hipotesis yaitu dugaan sementara yang harus dibuktikan melalui eksperimen.
4. Eksperimen atau percobaan.
5. Kesimpulan.

Senin, 16 Desember 2019

Cara Pencegahan Penyakit


Pada dasarnya pencegahan suatu lebih penyakit lebih murah dari pengobatan penyakit. Proses pencegahan tersebut tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan dan sejarah terjadinya penyakit. Di dalam proses pencegahan, perlu dilakukan deteksi dan intervensi pada penyebab dan faktor risiko dari penyakit. Arti pencegahan sendiri adalah mengadakan inhibisi terhadap perkembangan suatu penyakit sebelum penyakit tersebut terjadi.

Tingkat dari pencegahan penyakit adalah:
  1. Pencegahan primer (primary prevention). Tingkat pencegahan ini dapat dilakukan pada fase kepekaan dari sejarah alami suatu penyakit.
  2. Pencegahan sekunder (secondary prevention). Tingkat pencegahan ini dapat dilakukan pada fase pre-klinik dan klinik.
  3. Pencegahan tersier (tertiary prevention). Tingkat pencegahan ini dapat dilakukan pada fase penyakit yang sudah lanjut atau fase kecacatan.


1. Pencegahan primer (primary prevention)

Pencegahan primer terdiri dari 2 kategori yaitu:
a. Peningkatan kesehatan (health promotion)
Termasuk di sini adalah:
-         - Perbaikan gizi masyarakat
-         - Perbaikan kondisi rumah dan tempat rekreasi
-         - Pendidikan kesehatan, termasuk pendidikan seks dan sanitasi.

b. Pencegahan spesifik (specific protection)
Termasuk di sini adalah:
-         -  Imunisasi
-         - Penjernihan air minum
-         -  Pencegahan kecelakaan
-         - Pengaturan makan (diet) dan olahraga
Dalam pelaksanaannya, pencegahan primer dipengaruhi oleh sikap individu dan lingkungan.

2. Pencegahan sekunder (secondary prevention)

Pencegahan sekunder terdiri dari:
a. Penemuan/deteksi secara dini (early detection)
- penemuan kanker secara dini (in situ)
-  penemuan kasus penyakit kencing manis secara dini

b. Pengobatan penyakit secara dini
Agar penyakit tersebut tidak berkembang lebih lanjut perlu dilakukan pengobatan secara dini (pengobatan penyakit selagi belum parah)

3. Pencegahan tersier (tertiary prevention)

Pencegahan tersier terdiri dari:
a. membatasi kecacatan (disability limitation)
b. rehabilitasi (rehabilitation)

Minggu, 15 Desember 2019

Sejarah Alamiah Suatu Penyakit


Adanya sejarah alamiah dari suatu penyakit dapat dipakai secara cara dalam usaha pencegahan ataupun pengontrolan dari penyakit tersebut. Tingkatan dari sejarah alamiah suatu penyakit (natural history of disease) adalah:
1. Tingkat kepekaan (stage of susceptibility)
2. Tingkat sebelum sakit (stage of presymptomatic disease)
3. Tingkat sakit secara klinis (stage of clinical disease)
4. Tingkat kecacatan (stage of disability)

1. Tingkat Kepekaan (stage of susceptibility)

Pada tingkat ini, penyakit belum nampak namun telah ada suatu hubungan antara induk semang (host), penyebab penyakit (agent), dan kondisi lingkungan (environment). Adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara ketiga faktor tersebut akan menimbulkan suatu hal yang disebut faktor risiko (risk factors). Faktor risiko pada tingkat kepekaan ini dapat dipengaruhi berbagai hal antara lain: umur seseorang, jenis kelamin, gaya hidup seseorang (life style), keadaan budaya, dan lain-lain. Sebagai contoh adalah:
  • Seseorang (host) dalam kondisi sangat lelah disertai dengan konsumsi alkohol yang berlebihan (agent), maka akan memudahkannya dalam risiko menderita (risk factor) penyakit infeksi saluran pernafasan (pneumonia).
  • Seseorang yang berbadan gemuk dengan kadar kolesterol dan tekanan darah yang tinggi disertai merokok berat, maka orang itu akan berisiko mendapat serangan penyakit jantung koroner.   

2. Tingkat sebelum sakit (stage of presymptomatic disease)
Pada tingkat ini, penyakit juga masih belum nampak. Adanya faktor kepekaan dan interaksi antara Host, Agent, dan Environment akan timbul dan mulai nampak adanya perubahan-perubahan secara patologis. Walaupun demikian, perubahan-perubahan ini masih tetap berada di bawah garis yang disebut clinical horizon, yaitu garis perbatasan antara keadaan penyakit yang sudah jelas tanda-tandanya (secara klinis) dan terjadinya perubahan patologis.

Sebagai contoh misanya perubahan atherosklerostik pada pembuluh darah koroner, sebelum ada tanda-tanda stroke (mati mendadak).

 3. Tingkat sakit secara klinis (stage of clinical disease)
Pada tingkat ini terjadi perubahan secara anatomis dan fungsional. Adanya perubahan tersebut akan menimbulkan gejala dan tanda-tanda dari suatu penyakit. Pada tingkat sakit secara klinis ini, suatu penyakit dapat diklasifikasi misalnya berdasarkan lokasi, gambaran histologis, serta fungsionalnya (psychosocial).

4. Tingkat kecacatan (stage of disability)
Tingkat kecacatan dapat diartikan dalam beberapa pengertian. Definisi cacat menurut The National Health Survey Amerika Serikat adalah berkurangnya aktivitas seseorang secara sementara ataupun jangka panjang sebagai akibat terserang oleh penyakit akut atau kronis. Pengertian cacat dalam masyarakat berarti terbatasnya aktvitas yang dapat dilakukan seseorang, misalnya terbatasnya komunikasi seseorang karena tuli.

Ada penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa diberikan suatu pengobatan. Ada pula penyakit yang tetap berlangsung sampai lama walaupun sudah menjalani pengobatan dan dalam hal ini dapat menimbulkan kerusakan pada bagian tubuh dan akan memberikan kecacatan. Risiko dari keadaan tersebut adalah makin lamanya proses penyakit tersebut yang bisa menimbulkan cacat pada bagian tubuh tertentu.

Sebagai contoh: penyakit virus campak dapat sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi, jika kondisi penderita amat buruk dan tanpa pengobatan, maka akan dapat menimbulkan komplikasi radang otak.

Pengertian Sakit dan Sehat


Keadaan sakit merupakan akibat kesalahan adaptasi terhadap lingkungan (maladaptation) dan reaksi antara manusia dan sumber-sumber penyakit. Sakit berarti suatu keadaan yang memperlihatkan adanya keluhan dan gejala sakit secara subyektif dan obyektif, sehingga penderita tersebut memerlukan pengobatan untuk mengembalikan diri pada keadaan yang sehat.

Keadaan sakit sering dipakai untuk menilai tingkat kesehatan seseorang. Untuk mengetahui tingkat kesehatan tersebut, dapat dilakukan pengukuran-pengukuran nilai unsur tubuh, antara lain: mengukur berat badan, tekanan darah, frekuensi pernafasan, pemeriksaan cairan tubuh, dan lain-lain.   

Menurut World Health Organization (WHO), ‘sehat’ adalah suatu keadaan yang lengkap meliputi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata bebas dari penyakit dan cacat/kelemahan.

Anggota masyarakat yang sehat termasuk dalam model keadaan yang paling baik (high level wellness model). Dalam kata ‘model’ tersebut berorientasi pada upaya menyehatkan yang sakit, sedangkan konsep ‘keadaan baik’ berorientasi terutama untuk meningkatkan keadaan yang sudah baik. Konsep keadaan yang sudah baik ini berfokus pada unsur-unsur sebagai berikut:
1. kegiatan badaniah (physical activity)
2. kesadaran gizi (nutritional awareness)
3. pengelolaan tekanan/stres (stress management)
4. tanggung jawab mandiri (self responsibility)

Dalam konsep sehat WHO tersebut dharapkan adanya keseimbangan yang serasi dalam berinteraksi antara manusia dan makhluk hidup lain dengan lingkungannya. Sebagai konsekuensi dari konsep WHO tersebut, maka yang dikatakan manusia sehat adalah:
1. manusia yang tidak sakit
2. manusia yang tidak cacat
3. manusia yang tidak lemah
4. manusia yang bahagia secara rohani
4. manusia yang sejahtera secara sosial
5. manusia yang fit secara jasmani

Rabu, 16 September 2015

Tindakan yang Harus Dilakukan Polisi Untuk Mengurangi Kemacetan di Jakarta



Kemacetan di Jakarta kian bertambah parah. Oleh karena itu, polisi yang berperan sebagai pengatur lalu lintas dapat melakukan tindakan yang dapat mengurangi potensi penyebab kemacetan. Pihak kepolisian sebaiknya melakukan tindakan-tindakan berikut:

  1. Polisi tidak hanya melakukan ujian SIM kepada calon pengendara, namun memberikan pula pendidikan dan pelatihan berkendara sebelum memberikan SIM kepada semua pengendara kendaraan bermotor. Perilaku berkendara merupakan tindakan komunal atau kolektif. Perilaku satu orang akan direspon dan ditiru oleh orang lain yang menjadi tindakan seragam. Tindakan orang yang tidak diberi pendidikan berkendara cenderung adaptif dengan perubahan kondisi di jalan. Hal itulah yang menyebabkan kemacetan.
  2. Polisi mengatur lalu lintas di daerah perlintasan kereta yang ramai. Ketika palang pintu perlintasan kereta api ditutup, biasanya pengendara meluber ke sepanjang sisi jalan sehingga hanya menyisakan sedikit ruang atau bahkan tidak sama ada sama sekali bagi kendaraan yang berlawanan arah.
  3. Penertiban angkutan umum  yang berhenti di sembarang tempat, baik untuk ngetem, menjemput atau menurunkan penumpang di jalan.
  4. Polisi tidak melakukan penilangan di area yang mengganggu laju kendaraan, terutama kendaraan berukuran besar seperti truk atau trailer. Sebaiknya tindak lanjut penilangan kendaraan besar tersebut tidak dilakukan di jalan sehingga menganggu arus lalu lintas.
  5. Polisi sebaiknya segera menuntaskan lokasi terjadinya kecelakaan. Apalagi jika kecelakaan yang terjadi kontroversial sehingga menjadi arena tontonan baru. Massa yang membanjiri lokasi tersebut akan mengakibatkan kemacetan di jalan.
  6. Polisi berkoordinasi dengan penyelenggara suatu acara besar yang menyedot animo masyarakat agar dapat mengantisipasi lonjakan kendaraan yang melintas.
  7. Polisi juga berkoordinasi dengan pengembang atau pengelola suatu fasilitas umum agar membangun ruang parkir yang cukup menampung pengunjung. Parkir liar dapat seringkali menggunakan badan jalan sehingga mengurangi ruang bergerak kendaraan.
  8. Polisi dapat memberikan masukan mengenai tata guna lahan di suatu kawasan, sehingga di dalam penanganan masalah parkir harus pula diikuti dengan pengaturan mengenai tata guna lahan yang disesuaikan dengan arus lalu lintas di daerah tersebut.

Selasa, 15 September 2015

Mengistimewakan Angkutan Umum dan Pejalan Kaki

Sumber: Antara News


Di Indonesia, termasuk di Jakarta, perhatian kepada angkutan umum dan pejalan kaki terbilang minim padahal keberadaan angkutan umum dan akses pejalan kaki sangat berpengaruh terhadap besarnya volume kendaraan di jalan yang menjadi sumber kemacetan. Keengganan masyarakat menggunakan jasa angkutan umum biasanya disebabkan oleh ketidakjelasan informasi, harus berganti-ganti kendaraan, dan keamanan rendah. Masyarakat Jakarta juga enggan berjalan kaki karena belum membudaya, cuaca yang panas, kurang nyaman dan aman.  

Jenis angkutan umum yang melintasi Jakarta antara lain Trans Jakarta, Damri, Metro Mini, Kopaja, Bianglala, Mayasari Bakti, PPD, Pahala Kencana, APTB, KMK, dan mikrolet. Agar dapat meningkatkan pamor angkutan umum sebagai moda transportasi yang menarik, polisi sebaiknya memberikan prioritas kepada angkutan umum.

Pertama, pada jam rawan kemacetan, angkutan umum mendapat prioritas memanfaatkan jalur busway. Dengan demikian, angkutan umum relatif terhindar dari macet. Namun keistimewaan ini diberikan dengan syarat kendaraan yang melintasi busway tidak boleh ngetem di luar pemberhentian yang sepatutnya.  

Kedua keistimewaan angkutan umum saat kondisi jalan ditutup. Di Jakarta, penutupan jalan utama sering terjadi. Oleh karena itu, polisi dapat memberikan pengecualian kepada angkutan umum tertentu agar dapat melintasi jalan tersebut sehingga pengguna kendaraan pribadi dapat beralih ke kendaraan umum.

Ketiga, aplikasi angkutan umum juga akan menjadi daya tarik angkutan umum. Di era digital dewasa ini, semua informasi bisa didapat hanya dengan membuka internet. Pihak kepolisian tidak harus mengembangkan aplikasi angkutan umum sendiri, namun dapat bekerja sama dengan pengembang yang sudah ada dengan meng-update informasi lalu lintas. Kejelasan informasi tersebut dapat membantu masyarakat dalam memanfaatkan jasa angkutan umum.

Sedangkan bagi pejalan kaki, keistimewaan dalam berlalu lintas terutama dalam menyeberang jalan yang ramai. Sebaiknya seluruh persimpangan utama di Jakarta memberlakukan perhentian serentak di semua sisi persimpangan untuk memberikan prioritas bagi pejalan kaki agar menyeberang dengan cepat di semua sisi. Selain itu, polisi sebaiknya mengembalikan fungsi utama trotoar sebagai akses pejalan kaki yang bersih dari pedagang atau parkir liar.