Selasa, 15 Juli 2014

Pilih-Pilih Tinta Printer Aftermarket

Apa itu tinta printer aftermarket? 

Sederhananya tinta aftermarket adalah tinta printer yang digunakan setelah tinta bawaan printer sudah habis. Tinta aftermarket ini bisa memakai tinta yang direkomendasikan oleh pabrikan printer atau bisa juga tinta yang dijual oleh pihak ketiga. Tinta original printer relatif lebih mahal dibandingkan tinta non-original, makanya sebagian besar orang--khususnya di Indonesia--lebih senang menggunakan tinta aftermarket non-original. Tapi harus hati-hati juga karena tinta non-original umumnya memakai bahan pelarut utama dari campuran amoniak sehingga memudahkan korosi pada print head dan logam-logam di printer. Dalam jangka panjang justru akan mengurangi usia head unit printer tersebut dan biaya perbaikannya pasti jatuh lebih mahal.

Nah loh... Jadi harus bagaimana?

Kalau mau hemat, berarti harus cermat. Berhati-hatilah dalam memilih tinta. Perhatikan terlebih dahulu jenis printer yang dipakai, cek track record penyedia tinta, testimoni konsumen lain, dan sesuaikan dengan kebutuhan.

Salah satu penyedia tinta aftermarket yang memenuhi keempat kriteria tadi adalah tinta keluaran SUN Indonesia, pionir tinta refill dan Continuous Ink Supply System (CISS, disebut juga tinta infus) yang berdiri pada 2003. Jadi, SUN Indonesia bukanlah pemain baru di dunia per-tinta-an, yang sudah memiliki track record panjang dan telah mengalami fase trial and error. SUN Indonesia menggunakan tinta yang diproduksi oleh salah satu pabrik tinta terbesar di Korea, negara dengan variasi warna terkaya di dunia. Material tintanya pun memakai material tinta terbaik dari Jerman. Bahkan SUN Indonesia tersebut berani memberikan jaminan bahwa kualitas tintanya lebih baik dibandingkan tinta original.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, SUN Indonesia menyediakan berbagai jenis tinta sesuai dengan merk printer (Epson, Canon, HP, dan Brother) serta spesifikasinya (tinta dye, pigmen, sublime, dan art paper link). Kejelian ini juga yang membuat produk tinta SUN memberikan hasil yang optimal karena beda sakit tentu beda obatnya; beda tujuan, beda  pula kendaraannya. Berikut daftar tinta keluaran SUN Indonesia:


Tinta Refill untuk printer Epson 

Jenis tinta dye :
1. SUN Premium Plus Epson Dye Ink For L-Series
Dibuat khusus sesuai dengan spesifikasi Printer Epson L-Series (L110, L210, L310, L350). Tersedia dalam ukuran 100 ml.

2. SUN Premium Epson Dye Ink 
Dibuat khusus untuk printer Epson. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

3. SUN Premium Plus Epson Dye Ink 4-T
Dibuat khusus untuk Printer Epson tipe T11, T20, T30, T40, TX111, TX210, TX300F. tersedia dalam ukuran 100ml, 250 ml, dan 1 liter.

4. SUN Premium Plus Epson Dye Ink 6-R
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe R230, T60, 1390. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

5. SUN Premium Plus Epson Dye Ink For R2000
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe Stylus Photo R1900/R2000/PX-7V. Tersedia dalam ukuran 100 ml.

6. SUN Premium Plus Epson Dye Ink For R3000
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe Stylus Photo R1200/R2400/R4800/R2880/R3000. Tersedia dalam ukuran 100 ml.

7. SUN Specialist Epson Wide Format Dye Ink
Dibuat khusus untuk Printer Epson tipe 7900/7910/9900/9910 (11 color), 7700/7710/9700/9710 (5 color), 4800/4880/7800/7880/9800/9880/11880 (8 Color). tersedia dalam ukuran 100ml, dan 1 liter.

Jenis tinta Pigment :
1. SUN Premium Plus Pigment Ink 4-T
Dibuat khusus untuk Printer Epson tipe T11, T20, T30, T40, TX111, TX210, TX300F.Tersedia dalam ukuran 100ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus Pigment Ink 6-R
Dibuat khusus untuk Printer Epson tipe R230, R270, R290, T60, 1390. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

3 SUN Premium Plus Epson Pigment Ink For R2000
Khusus untuk Printer Epson tipe Stylus Photo R1900/R2000/PX-7V. Tersedia dalam ukuran 100ml, dan 1 liter.

4. SUN Premium Plus Epson Pigment Ink For R3000
Khusus untuk printer Epson tipe Stylus Photo R1200/R2400/R4800/R2880/R3000, tersedia dalam ukuran 100ml.

5. SUN Specialist Epson Wide Format Pigment Ink
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe 7900/7910/9900/9910 (11 color), 7700/7710/9700/9710 (5 color), 4800/4880/7800/7880/9800/9880/11880 (8 Color). Tersedia dalam ukuran 100ml, dan 1 liter.

Jenis tinta Sublime :
1. SUN Premium Plus Sublime Ink 4-T
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe T11, T20, T30, T40, TX111, TX210, TX300F. Tersedia dalam ukuran 100ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus Sublime Ink 6-R
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe T60, 1390. tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter

Jenis tinta Art Paper Ink :
1. SUN Premium Plus Epson Dura-Ultra Ink
Dibuat khusus untuk cetak diatas kertas art paper dan segala jenis kertas coating (photo paper, silky photo paper, Inkjet paper) untuk printer Epson tipe T13, T30, T1100, T60, 1390. Tersedia dalam ukuran 100ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus Epson Dura-Ultra Ink For R2000
Dibuat khusus untuk cetak diatas kertas art paper dan segala jenis kertas coating (photo paper, silky photo paper, Inkjet paper) untuk printer Epson tipe R1900/R2000/PX-7V. Tersedia dalam ukuran 100 ml.

3. SUN Specialist Epson Wide Format Dura-Ultra Ink
Dibuat khusus untuk cetak diatas kertas art paper dan segala jenis kertas coating (photo paper, silky photo paper, Inkjet paper) untuk printer Epson tipe 4800/4880/7800/7880/9600/9800/9880/11880 (8 color). Tersedia dalam ukuran 100 ml dan 1 liter.

Tinta Refill untuk Printer Canon

Jenis tinta dye :
1. SUN Premium Canon Dye Ink
Untuk segala jenis printer Canon 4 warna (CMYK). Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus Canon Dye Ink
Untuk segala jenis printer Canon 4 warna (CMYK) dilengkapi dengan UV Protection, hitam yang lebih pekat, dan warna lebih cerah. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

Tinta Refill untuk Printer HP

Jenis tinta dye :
1. SUN Premium HP Dye Ink
Untuk segala jenis printer HP 4 warna (CMYK). Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus HP Dye Ink
Untuk segala jenis printer HP 4 warna (CMYK) dilengkapi dengan UV Protection, hitam yang lebih pekat, dan warna lebih cerah. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

Tinta Refill untuk Printer Brother

Jenis tinta dye :
1. SUN Premium Plus Brother Dye Ink
Untuk segala jenis printer Brother 4 warna (CMYK). Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.



Silahkan dicek dan disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau masih bingung, bisa konsultasi langsung dengan marketingnya di:
Web : www.sun-indonesia.com atau melalui 
Facebook : www.facebook.com/sun.center.indonesia
Twitter : @sunIndonesia
Instagram : sunindonesia

Jika sudah menjadi konsumen, jangan lupa untuk berbagi pengalaman dengan orang lain juga ke SUN Indonesia. Karena sharing itu bisa memberi pencerahan bagi (calon) konsumen lain dan SUN indonesia juga memerlukan feedback untuk terus memperbaiki kualitas produknya.








Senin, 14 Juli 2014

Pengalaman Menggunakan Layanan Provider Internet

Internet.

Sebuah kebutuhan yang dahulunya sekunder atau tersier sekarang membumbung menjadi kebutuhan primer. Top priority, seperti makan, minum, tidur, dan mandi. Begitu mata terbuka, entah tengah malam atau pagi hari, langsung mengusik-usik gadget. Online. Sebelum menutup mata pun diakhiri dengan internet, mengucapkan selamat malam kepada dunia. Internet, ruas penghubung yang tak dihalangi jarak, waktu, dan macet. Orang bisa mendapatkan berbagai informasi audio visual secara lengkap, berbagi momen dengan orang-orang tanpa harus bertatap muka, main game online juga terasa lebih semarak. Itulah sekelumit alasan mengapa orang begitu kecanduan dengan internet. Saya pun demikian.

Pertama kali menggunakan internet pribadi, saya menggunakan salah satu layanan provider CDMA. Hanya dengan 45 ribu, saya bisa menggunakan akses internet unlimited selama sebulan. Waktu itu jauh lebih murah dibanding vendor GSM yang menggunakan sistem kuota atau unlimited dengan FUP kecil. Meskipun modem berkali-kali hilang, saya masih setia menggunakan layanan yang sama sampai akhirnya... Laptop saya yang rusak! Akhirnya saya hanya menggunakan tablet. Hingga sekarang saya masih nyaman dengan tablet dan belum terpikirkan untuk menggantinya dengan laptop baru. Lebih ringan dan ringkas. Tapi karena tablet tidak kompatibel dengan modem dan hanya mendukung mini simcard GSM membuat saya harus membeli wifi router. Internetnya tetap menggunakan provider CDMA lama. Masih setia.

Ternyata dunia sudah berubah, termasuk dunia internet. Saudara-saudara saya yang menggunakan provider yang sama terus mengomentari betapa leletnya internet yang masih saya pakai itu. Saya yang termasuk tipe "kalau sudah cocok dengan sesuatu, saya tidak akan mencari yang lain" hanya bisa berkata, "oh ya?". Pada akhirnya saya pun merasakan leletnya juga. Saya mulai coba-coba pakai layanan GSM. Awalnya hanya tethering dari hp dengan paket 49 ribu/bulan unlimited. Beneran, FUP-nya kecil tapi sinyal stabil. Terus-terusan tethering dari hp membuat hp cepat panas dan batere tidak tahan lama, saya pun harus menggunakan mini simcard. Customer service tablet saya menyarankan untuk membeli mini simcard di galeri providernya. Uh, repot amat. Saya pun memotong simcard biasa menjadi mini simcard. Percobaan pertama gagal, saya memotong hampir semua bagian kecuali bagian kuningnya. Tentu saja kekecilan di slot sim. Kemudian saya googling cara memotong mini simcard, ketemu. Potong-potong lagi, masih gagal lagi. Di percobaan ketiga, baru berhasil. Perfecto! Saya bisa merasakan nyamannya berinternet dan mengamini kalau provider sekarang lebih mending daripada yang pertama dulu.

Saya lalu terusik, bagaimana dengan layanan gsm yang lain? 

Setelahnya saya menjadi rajin membanding-bandingkan harga, kuota, FUP, dan kecepatan dari beberapa provider gsm. Saya punya beberapa mini simcard untuk membanding-bandingkannya secara langsung. Biasanya saya tes dengan paket harian, entah kuota atau unlimited, mana yang lebih cepat. Akhirnya saya pun tertarik dengan paket internet 29.900/bulan dengan kuota 8 GB. Kecepatan rata-ratanya sampai 300 kb perdetik. Saya benar-benar terkesima. Saya yang dulu sudah puas dengan kecepatan rata-rata 6-25 kb/detik tak menyadari kalau itu standarnya kira-kura. Kelemahan paket kuota 8 GB itu adalah 'masa tayangnya'. Kuota 3,4 GB bisa dipakai di jam 1-6 pagi, 4 GB untuk jam 9-5 sore, sementara waktu sisanya hanya disediakan kuota 600 MB. Benar-benar tidak cocok untuk karyawan atau mahasiswa yang sehari-hari menggunakan wifi gratis di kantor/kampus. Tapi bagi saya yang bekerja dari rumah, pola seperti itu tak banyak masalah. Antara jam 6-9 pagi saya bisa beraktivitas lain, malam hari saya puas dengan bekerja offline. Tapi pada akhirnya tetap saja timbul masalah. Kalau sedang diburu deadline tentunya harus terus online di jam-jam prime time. Padahal kuotanya minim sekali. Sesekali saya menggunakan paket internet unlimited harian. Timbul lagi niat untuk menoambah atau mengganti paket internet yang lain. Saya masih suka dengan paket yang sekarang dan mau menambahkannya dengan paket provider lain yang menawarkan paket smartphone 35 ribu/bulan unlimited plus bonus telepon dan sms ke sesama provider. Pagi buta dan jam efektif saya menggunakan kuota 8 GB, malam hari pakai paket unlimited. Totalnya hanya 65 ribu sebulan. Saya sudah puas.

Tapi... Seandainya masih ada penyedia layanan internet yang lebih inovatif lagi, dengan harga dan kecepatan yang memadai, mungkin lagi-lagi saya beralih hati. Inovasi yang membuat saya kembali bertindak "kalau sudah cocok dengan sesuatu, saya tidak akan mencari yang lain".

Kamis, 05 Juni 2014

Review dan Ide Tagline suara.com

”
Suara.com merupakan portal berita yang baru hadir untuk meramaikan portal-portal berita di dunia maya. Secara umum, tampilan website suara.com terlihat sumringah dengan pemilihan warna-warna cerah. Tampilan itu membuat pembaca menjadi bersemangat untuk melirik isi beritanya. 

Beberapa artikelnya menggunakan judul berita "bla bla bla ini". Misalnya di kanal Otomotif, terdapat berita "Orang Ini Bikin 'Batmobile'-nya Sendiri" atau di kolom Bisnis "Ini Cara Pemerintah Menggenjot Penerimaan Negara" yang diterbitkan pada 6 Juni 2014. Metode tersebut bisa meringkas judul sekaligus menarik perhatian pembaca untuk mengintip apa "ini" yang dimaksud. Tapi jika sebagian besar berita ditulis dengan cara demikian, malah berdampak negatif karena seperti endorsement berita-berita gosip.

Umumnya, kanal berita yang populer di kalangan pembaca adalah politik, hiburan (entertainmen), dan bisnis. Di sini saya akan mereview kanal yang relatif kurang populer kecuali bagi orang yang memang memiliki hobi di bidang itu, seperti kanal berita otomotif dan teknologi. Kalau suara.com bisa mengemas informasinya  dengan menarik, orang yang bukan penghobi pun akan tersedot perhatiannya untuk menyimak berita-berita tersebut. Di portal berita suara.com saya mendapatkan ketertarikan itu. Meskipun saya tidak memiliki hobi dan ketertarikan khusus di bidang otomotif, tapi dengan membaca berita di suara.com, saya menjadi "oh, ada juga yang kayak gitu ya" dan "oh" "oh" lainnya.

Sebagian besar berita di suara.com, terutama di kanal news internasional dan teknologi, mengutip dari sumber berita lain. Meskipun begitu, suara.com mencantumkan referensi beritanya dengan fair dan sumber beritanya merupakan portal berita yang bisa dipercaya seperti BBC, Dailymail, Reuters, dan sebagainya. Selain itu, transliterasinya begitu "halus". Pembaca tidak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami maksud berita yang ditulis. Artikelnya dikemas dengan begitu ringkas tapi tetap memberikan informasi 5W+1H secara komplit. Sebagai contoh, artikel bertajuk "Orang Ini Bikin 'Batmobile'-nya Sendiri" (5 Juni 2014) yang mencuplik tulisan dari dailymail.co.uk  (dirilis 4 Juni 2014).

Yang menarik dari penyajian berita di suara.com, penulis (penerjemahnya) bisa meninggalkan "bom" di akhir tulisan. Ruben Setiawan, sang penulis, menyimpan fakta menarik terkait replika batmobile tersebut yang disampaikan di akhir artikel. Bahwa mobil replika itu tak bisa bergerak karena dibuat tanpa mesin. Saya tersenyum simpul ketika membaca "bom"-nya. Kreatif. Ketika membaca berita aslinya di dailymail, saya merasakan sensasi yang berbeda. Di tulisan aslinya, pembaca bisa mendapatkan informasi lebih detail dan dipaparkan secara naratif lengkap dengan foto kronologisnya. Tapi, pembaca tidak akan mendapati "bom" yang membuatnya terasa spesial.

Di kanal berita tekno terdapat lini berita tentang Gadget, Internet, Sains, dan Tekno. Saya paling suka dengan kolom "Sains" yang jarang saya temui di portal online lain. Contohnya tulisan "Peneliti Irlandia Temukan Spesies Burung Baru di Sulawesi". Saya suka dengan berita yang diambil dari hasil penelitian yang menunjukkan kredibilitas informasinya. Meskipun, lagi-lagi tulisan tersebut mengutip dari sumber lain yakni www.independent.ie. Namun menurut saya, berita pendukung yang ditulis oleh jurnalis suara.com sangat kurang. Sebagai contoh, tulisan tentang penemuan burung baru tersebut, alangkah baiknya jika jurnalis suara.com menulis/menyajikan "berita terkait" yang memberikan informasi tambahan. Misalnya dengan membuat tulisan tentang spesies burung cabai atau Kawasan Taman Nasional Laut Wakatobi yang menjadi tempat hunian burung tersebut. Dengan begitu, wawasan pembaca menjadi bertambah serta jurnalis suara.com tidak terkesan malas karena hanya mengutip mentah-mentah apa yang disampaikan sumber beritanya. Jika informasi tambahan tersebut tidak dikupas oleh tulisan asal, maka jurnalis suara.com juga tidak berinisiatif menyajikan beritanya.

Fungsi "berita terkait" sangat penting agar pembaca membaca artikel lain yang bisa memberi tambahan informasi tentang suatu topik secara lengkap. Membaca berita online berbeda dengan membaca berita dalam bentuk kertas. Pembaca berita online cenderung legih senang membaca berita yang singkat namun dapat merangkum semua informasi yang dibutuhkan. Satu artikel yang dijejali berbagai informasi  hanya akan membuat orang malas membaca. Di sinilah fungsi "berita terkait" untuk membagi-bagi subyek berita juga untuk memberikan link informasi yang detail bagi pembaca. 

Semoga ke depannya suara.com dapat menjadi portal berita online yang aktual dan semakin "berisi".


Tagline: Resonansi Berita Teraktual



   ayok ikutan lomba review & tagline . Cek infonya di
Logico @logico14

Sabtu, 26 April 2014

AFTA Sangat Menguntungkan, Tapi...

ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang akan dimulai per Januari 2015 nanti akan membuat gebrakan besar bagi aktivitas ekonomi negara-negara anggota ASEAN. AFTA akan mengarahkan pasar regional di ASEAN menuju pada perwujudan pasar tunggal. Dengan begitu, produk-produk yang dihasilkan oleh anggota ASEAN relatif lebih bebas keluar masuk antar sesama negara anggota, seakan-akan pasar domestik sendiri. Demikian pula masalah arus investasi. Investor akan memeroleh kemudahan dalam menanamkan modalnya. Selain itu, mobilitas tenaga kerja lebih mudah dan cepat.

Dalam kondisi ini, ke depannya dapat dibayangkan kita akan gampang mendapati beras dari Vietnam tanpa prosedur impor yang berbelit-belit. Investor perkebunan dari Malaysia akan semakin bertebaran di Indonesia. Kita mungkin juga akan mendapati Nanyang Technological University of Singapore membuka cabang di Jakarta. Barangkali juga kita menemui perawat-perawat dari Myanmar bekerja di rumah sakit Indonesia. Sangat mungkin juga, warga negara Thailand menjadi pemilik resor di Labuan Bajo, tanpa harus berkongsi dengan WNI. Sebaliknya, produk barang dan jasa yang diproduksi oleh Indonesia juga akan leluasa menembus pasar anggota ASEAN.
Keberadaan AFTA jelas sangat menguntungkan, tapi harus dilihat terlebih dahulu siapa yang terlibat dan siapa yang menikmati perputaran aktivitas ekonominya.

Secara sederhana, aktivitas ekonomi dapat dibagi menjadi tiga mata rantai, yakni produksi, distribusi, dan konsumsi. Hal ini akhirnya memunculkan tiga pelaku seperti produsen di skala produksi, disebut distributor jika bermain di ranah distribusi, dan menjadi konsumen apabila hanya melakukan konsumsi.
Di antara ketiga pelaku ekonomi tersebut, yang paling diuntungkan dari keberadaan AFTA adalah konsumen karena semakin beragamnya pilihan produk. Sebelumnya konsumen lebih banyak dihidangkan produk lokal, namun setelah implementasi AFTA, mereka memiliki pilihan yang lebih luas. Di samping itu, produsen akan semakin bersaing untuk memenangkan hati konsumen. Vendor suatu produk akan terus berinovasi dan memberikan harga yang kompetitif agar dapat terus bertahan.
Misalnya ketika produk China mulai menjamur di Indonesia setelah berlakunya perjanjian ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) pada awal 2010 silam, terjadi gelombang perubahan selera yang besar, terutama produk gadget dan hortikultura. Vendor gadget yang sudah memiliki brand besar di Indonesia pun akhirnya berupaya 'menyesuaikan diri' dengan produk asal China yang memang menyasar pada segmen konsumen kelas menengah ke bawah. Demikian pula produk hortikultura, terutama buah-buahan. Konsumen buah akhirnya semakin akrab dengan pear xiang lie, pear ya lie, apel fuji, jeruk sweet ponkam, dan sejenisnya. Pedagang sendiri mengakui, buah-buahan asal China tersebut lebih banyak dicari konsumen karena keunggulan penampilan, rasa, serta harganya murah. Nantinya, ketika AFTA sudah berjalan, konsumen Indonesia pun akan semakin familiar dengan produk pertanian dari Thailand yang sudah terkenal keunggulan varietasnya.

Lalu, bagaimana dengan distributor?

Distribusi juga akan menjamur dengan sendirinya asalkan permintaan konsumen terus mengalir. Apalagi dengan semakin mudahnya keberadaan toko online sehingga barang-barang luar negeri nan lucu menggemaskan lebih gampang diperoleh dibandingkan kerajinan lokal. Buah-buahan impor pun, asalkan permintaan konsumen tinggi, distributor akan dengan senang hati memasok buah-buahan tersebut meskipun mengandung bahan kimia berbahaya. Dengan kata lain, pelaku yang bergerak di jalur distribusi baik importir, pedagang besar, agen, dan pedagang eceran justru semakin diuntungkan karena dapat menjual produk yang relatif lebih tinggi permintaannya. Jika produk lokal sedang booming, maka produk asli Indonesia menjamur di pasar. Sebaliknya jika produk asing yang naik daun, maka distributor tak perlu bingung karena proses penjualannya pun lebih mudah.

Produsen bagaimana?

Sebenarnya keberadaan AFTA sangat diharapkan untuk menimbulkan iklim kompetisi yang produktif. Adanya persaingan akan memunculkan inovasi kreatif atau yang dikenal sebagai creative destruction, di mana hanya sesuatu yang terus berinovasi saja yang dapat bertahan dan menggeser sesuatu yang sudah mapan. Paradigma ini menekankan pentingnya suatu kerusakan pada 'tatanan lama' agar timbul pemikiran untuk membuat sesuatu yang baru. Hal inilah yang mendasari adanya inovasi. Produsen di Indonesia tentu akan sangat diuntungkan pula apabila dengan masuknya produk dari negara ASEAN membuat mata mereka terbuka dengan kelemahan produknya yang berujung pada timbulnya keinginan untuk membuat produk yang lebih baik.  akan kontraproduktif apabila dengan masuknya produk impor, produsen menjadi kalang kabut dan memilih menghentikan usahanya.

Contoh terbaru misalnya aksi pemogokan pedagang tempe dan tahu pada Agustus-September 2013 lalu. Jika kita telusuri, penyebabnya memang ketersediaan bahan baku kedelai lokal yang setiap tahun kurang mencukupi, sehingga ditutup dengan impor kedelai yang harganya cukup murah dan ukurannya lebih besar. Selama bertahun-tahun kita melakukan itu sehingga terbiasa dengan pasokan kedelai impor. Baru ketika terjadi lonjakan harga kedelai impor tersebut, semua langsung ribut karena adanya ketergantungan yang tinggi. Produsen tahu tempe mogok berproduksi, sementara pemerintah baru 'terpikirkan' untuk mendorong kembali pertanian kedelai domestik.

Seharusnya kita berkaca pada Malaysia dan Thailand. Pada dekade 80-an sistem pendidikan mereka jauh lebih buruk dibandingkan Indonesia sehingga mereka harus 'mengimpor' tenaga pendidik dari Indonesia. Namun, Malaysia tidak terlena dengan keberadaan guru impor. Mereka terus membina sistem pendidikannya, belajar dari metode pembelajaran guru Indonesia. Dan hasilnya sekarang? Justru pelajar-pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Negeri Jiran itu.

Demikian pula dengan Thailand yang sangat termahsyur dengan budidaya dan rekayasa tanaman. Konon, buah-buahan induknya berasal dari Indonesia yang dikembangkan sedemikian rupa, sehingga muncullah berbagai varietas baru seperti saat ini, seperti durian monthong, jambu bangkok, dan beberapa buah lainnya. Sekarang ini, untuk jenis buah mangga saja lahir varietas mangga namdokmai, chokanan, mahachanok, mundenkau, dan nama-nama berbau Thai lainnya.

Kembali ke produksi dalam negeri, kita sering terlena dengan produk dan jasa asing sehingga lupa untuk mengambil pelajaran dari produk asing yang baik itu. Kerapkali yang terjadi di Indonesia adalah kurang adanya kebijakan dan insentif dari pemerintah yang mendorong pelaku domestik agar terus berinovasi. Produsen lain yang menggunakan produk mereka sebagai bahan baku malah balik badan dan memilih produk impor yang sedang murah serta stoknya melimpah. Distributor pun semakin gencar mengenalkan produk impor di gerai-gerainya. Konsumen pun dengan polosnya sumringah melihat produk impor yang murah dan menarik. Dalam kondisi ini, bukankah produsen lokal seakan-akan dikhianati 'keluarganya' sendiri? Tidaklah mengherankan apabila produsen tersebut memilih menyerah karena lapangan produk itu sudah tidak menjanjikan lagi.

Kesimpulannya, AFTA memang akan memberikan berbagai pilihan produk bagi konsumen dan membuka jalur pendapatan baru bagi distributor, tapi produsen harus didorong untuk terus berinovasi, mau belajar dari produk asing, dan jangan mudah menyerah agar tak tergilas dalam persaingan.

Produksi, distribusi, dan konsumsi adalah konteks ekonomi mikro. Dalam konteks makro, saya pribadi ingin menyarankan agar kita meninggalkan ukuran pendapatan nasional yang masih memakai standar GDP (Gross Domestic Product) dan mulai mengimplementasikan (Gross National Product). GDP hanya menghitung pendapatan yang dihasilkan di dalam negara itu dalam satu periode, tanpa menelusuri siapa pemilik modalnya, dari mana asal tenaga kerjanya, ataupun perusahaan milik siapa. Di dalam pasar bebas yang memudahkan mobilitas faktor produksi, maka akan terjadi tumpang tindih perhitungan pendapatan. Ke depan kita mungkin akan tertipu dengan nilai ekspor perkebunan sawit misalnya karena terjadi lonjakan produksi yang tajam. Namun jika ditelusuri, ternyata pengelolanya adalah perusahaan asal Malaysia, otomatis pendapatan riilnya lebih banyak lari ke Malaysia. Barangkali resor-resor di lokasi pariwisata semakin menjamur, tetapi jika ditilik pemiliknya ternyata bukan milik orang Indonesia. Eksplorasi pertambangan bertambah kencang, tetapi investornya orang asing, tenaga kerjanya pun lebih banyak mengundang karyawan asing yang lebih kompetitif. Lalu bagaimana jadinya wajah asli pendapatan nasional kita?

Poin penting dalam penghitungan pendapatan nasional adalah nilai tambah (value added). Entah impor atau ekspor, maka yang penting adalah nilai tambahnya. Oleh karena itu, masyarakat di dorong untuk meningkatkan nilai tambah suatu produk. Meskipun suatu barang diperoleh secara impor, asalkan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi produk baru akan meningkatkan nilai tambah produk itu sendiri. Misalkan kita mengimpor komponen elektronik dari Vietnam, asalkan barang tersebut dirakit di Indonesia, maka akan timbul nilai tambah. Tapi jika barang yang diimpor sudah built in, tidak akan banyak nilai tambah yang ditimbulkan.

Demikian pula dengan produk ekspor. Sebenarnya kita sangat kaya dengan faktor produksi, terutama faktor produksi alam dan tenaga kerja. Bahkan negara kita mendapat embargo ekonomi pun kita masih bisa eksis karena pada dasarnya barang-barang yang ada di dunia ini merupakan produk turunan pertanian dan pertambangan. Kita bisa mendapatkan bahan bakunya dengan mudah di Indonesia. Jadi sangat disayangkan kalau produk yang kita ekspor adalah bahan baku mentah, minyak mentah, kayu gelondongan, TKI-TKW yang kurang terdidik karena nilai tambahnya kecil.

Kesimpulannya, dengan adanya kemudahan masuknya faktor produksi dari negara ASEAN lain, akan terjadi hentakan dalam aktivitas ekonomi, tapi kita harus berhati-hati dalam penghitungan porsi pendapatannya dan berupaya untuk meningkatkan nilai tambahnya.

Jadi, kata kunci dalam persaingan bebas seperti AFTA ini adalah adanya variasi pilihan, inovasi tiada henti, dan nilai tambah. Agar produk barang dan jasa kita eksis baik di pasar domestik dan negara ASEAN lainnya, maka harus ada upaya untuk terus berinovasi dan meningkatkan nilai tambah. Dengan begitu, aktivitas ekonomi baik mikro maupun makro akan terus sehat dan AFTA benar-benar sangat menguntungkan, tanpa ada 'tapi' lagi.


Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

Jumat, 20 Desember 2013

Infiltrasi Modal Sosial pada Koperasi untuk Meningkatkan Daya Tawar Petani


            Keberadaan koperasi bukanlah hal asing dalam denyut pertanian di Indonesia karena koperasi telah menjadi bagian penting dari sistem pertanian. Petani telah lama mengenal Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai lembaga yang mendekatkan petani kepada pemerintah, produk input, maupun pasar sehingga memberikan efisiensi dan nilai tambah bagi produk mereka. Selain itu, KUD juga menjadi sarana bagi petani untuk berbagi informasi mengenai permasalahan dan perkembangan pertanian. Sayangnya, pemahaman yang semakin sempit dalam memaknai KUD mengakibatkan koperasi ini tidak ubahnya ‘toko’ yang menyediakan kebutuhan pertanian semata dan tidak memandang eksistensi KUD sebagai upaya meningkatkan daya tawar (bargaining position).
            Padahal, model koperasi yang selama ini dicita-citakan bertujuan untuk memfasilitasi petani dalam dua hal, yakni pada fungsi internal dan eksternal. Secara internal, keberadaan koperasi bermanfaat untuk menimbulkan efisiensi produksi karena kebutuhan input (bibit, pupuk, alat pertanian, obat-obatan, bahkan pelatihan). Apabila kebutuhan tersebut difasilitasi secara kolektif akan memberikan harga yang lebih ringan bagi petani. Sedangkan fungsi eksternal koperasi bertujuan untuk menguatkan daya tawar petani terhadap pelaku ekonomi lainnya (misalnya agen, tengkulak, pedagang besar).
            Tulisan ini dititikberatkan pada fungsi eksternal koperasi agar posisi tawar petani lebih baik bila disandingkan dengan pelaku ekonomi lainnya. Dari penelusuran di lapangan, keberadaan koperasi diperlukan sebagai “media” bagi petani agar dapat memenangkan konfrontasi dengan pedagang perantara. Koperasi berperan sebagai institusi yang mampu memuluskan perbaikan bagi petani di luar institusi yang telah ada, laiknya petugas penyuluh lapang (PPL) maupun kelompok tani. Oleh karena itu, untuk merekatkan altruisme antara petani dan koperasi, modal sosial dipilih menjadi media infiltrasi (perembesan) karena modal sosial ini memanfaatkan jaringan sosial informal yang telah lama terbentuk dalam interaksi petani.
     Rekomendasi untuk memperbaiki daya tawar petani melalui tiga tahapan. Pertama, salah satu cara meningkatkan daya tawar petani adalah dengan menginfiltrasikan modal sosial dalam kinerja koperasi. Melalui modal sosial (hubungan kekerabatan, kepercayaan, jaringan, kapasitas informasi, dan loyalitas), koperasi dapat mengafeksi petani agar menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Kedua, untuk mendorong petani agar meningkatkan keuntungan ekonomi dapat dicapai jika koperasi menempatkan dirinya sebagai ‘pihak yang dibutuhkan’ untuk mencapai kesejahteraan petani. Ketiga, bila posisi koperasi sudah kuat di mata petani, maka koperasi dapat meluaskan jaringannya guna semakin meningkatkan kesejahteraan kedua belah pihak. Koperasi semakin dipercaya oleh pihak eksternal (baik pemerintah maupun swasta) untuk memfasilitasi mereka dalam berinteraksi dengan petani. Hal ini terjadi karena modal sosial yang solid akan memancing tumbuhnya modal sosial baru.



Tulisan ini merupakan ringkasan. Silahkan menghubungi pemilik blog untuk mendapatkan versi lengkapnya.

Rabu, 04 Desember 2013

Otak, Sistem Memori, dan Ekonomi Syariah


Apa hubungannya? Begitu barangkali yang terlintas di pikiran Anda. Ya, jika dilihat sepintas, judul di atas seakan tak berkorelasi secara langsung. Namun, marilah kita kaji ulang pembuktiannya dengan jeli.

Otak merupakan organ sentral manusia. Otak yang mengendalikan sistem memori dan kognitif. Setiap tindakan seseorang akan direkam oleh otak menjadi suatu ingatan atau memori. Tidak seperti pendapat jamak yang berkembang di masyarakat, sistem penyimpanan memori bukanlah seperti perpustakaan yang menyimpan berbagai ragam buku sekaligus. Informasi yang diterima seseorang apabila hanya dipindai sebagai memori sementara, maka akan disimpan menjadi memori jangka pendek (short term memory-STM) yang mudah diabaikan dan dilupakan. Sementara itu, jika informasi bertahan lebih dari 15 detik ataupun bersifat repetitif, selanjutnya akan disimpan sebagai memori jangka panjang (long term memory-LTM) yang relatif lebih permanen. Oleh karena menyimpan informasi repetitif, LTM-lah yang membentuk kebiasaan.
Seringkali kita bertindak tanpa sadar pada hal yang bersifat kebiasaan, misalnya rute perjalanan pulang. Meskipun selama melangkah pikiran sedang melamun, kita bisa sampai depan pagar rumah dengan tepat. Contoh lainnya seperti jam makan. Seseorang yang terbiasa sarapan jam tujuh pagi, kemudian mendadak tidak mendapati makanan seperti biasa akan menunjukkan reaksi. Demikian pula orang yang tak terbiasa makan pagi lalu dipaksa memasukkan makanan padat ke perutnya akan menunjukkan respon jika kebiasaannya berubah. Hal ini karena kebiasaan telah membentuk pola, sehingga otak dan tubuh memiliki panduan tertentu juga akan menunjukkan reaksi tertentu terhadap perubahan. Kebiasaan ini jugalah yang membentuk gaya hidup (lifestyle). Sedangkan dalam bentuk kognitif, otak akan menghasilkan pola pikir atau persepsi.
Otak manusia terdiri dari 100 juta neuron atau sel syaraf dengan fungsi utama mencakup persepsi, emosi, motivasi, dan motorik. Menariknya, dalam mengolah informasi, otak mendapatkan stimulus dari unsur mental dan spiritual. Sebagai contoh, tanggapan orang atas ekonomi syariah akan beragam, sehingga membentuk persepsi yang bervariasi pula. Seseorang yang memiliki nilai spiritual bagus akan menganggap bahwa ekonomi syariah merupakan bagian tak terelakkan dari dirinya sebagai seorang muslim, sehingga ia bersikap mendukung gerakan pembumian ekonomi syariah. Hal ini akan berbeda dengan orang yang mengutamakan ukuran untung dan rugi secara materi dan fisik karena lemahnya nilai mental dan spiritual. Ia akan memersepsikan ekonomi syariah ekuivalen dengan ekonomi konvensional, bahkan lebih merugikan, misalnya penghitungan pinjaman bank atau warisan.
Dalam hal emosi dan motivasi, penelitian Rolls (2000) menguatkan temuan lainnya yang mengemukakan bahwa otak manusia memberikan penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) atas memori yang disimpannya dalam bentuk emosi dan motivasi. Memori yang memberikan efek baik akan menjadi motivasi, sebaliknya efek buruk dari sebuah memori akan membentuk trauma. Bentuk terburuk dari trauma adalah fobia. Misalnya rasa bahagia didapatkan sebagai ‘penghargaan’ atas penerimaan informasi menyenangkan, seperti mendapatkan hadiah. Rasa takut merupakan ‘hukuman’ atas informasi buruk yang diterima, contoh fatalnya seperti Islamophobia atau ketakutan dan kebencian terhadap Islam yang berwujud pada prasangka dan diskriminasi kepada muslim. Berikutnya, segala informasi yang diserap, baik dalam konteks persepsi, emosi, dan motivasi akan dituangkan dalam reaksi motorik. Otak menggerakkan tubuh, misalnya memberikan bunga kepada orang yang membahagiakan, atau melemparkan batu kepada sesuatu yang dibenci. Lagi-lagi, stimulus mental dan spiritual bermain di sini dalam bentuk pengendalian diri.

Acapkali kita ‘berpikir’, untung-rugi secara fisik atau materi atas apa yang telah dan akan dilakukan, seolah-olah hidup ini akan selesai di dunia saja. Lebih parahnya lagi, dunia semakin mendorong sisi materialisme manusia sehingga membentuk persepsi yang lepas dari nilai agama. Lalu, bagaimana mengatasinya? Dengan niat. Mengacu pada istilah fikih yang dikutip Sangkan (2011), niat dimaknai sebagai qasdhu syai muqtarinan bifi’lihi, yakni melakukan suatu perbuatan disertai dengan kesadaran penuh (consciousness). Dengan begitu, niat tidak hanya bisa dilakukan dengan kebiasaan buta, artinya, kebiasaan yang tidak disadari, seperti berjalan sambil melamun tadi. Dengan menguatkan niat, maka seseorang akan berusaha dengan sadar. Contohnya, penerapan akuntansi secara syariah. Di dalam akuntansi syariah dimasukkan unsur zakat sebagai komponen ‘pembagian’ laba. Dengan menerapkan akuntansi syariah, lembaga atau individu tersebut menjadi berpikir ulang dalam melakukan kecurangan, karena ia sendiri sedang menjalankan hisab dunia. Ketika ia tidak menunaikannya dengan sadar dan sungguh-sungguh, maka ia akan malas mengimplementasikan akuntansi syariah karena banyaknya komponen pengurang laba dan ketatnya usaha dalam meningkatkan laba.

Pertanyaan selanjutnya, apakah bisa mengubah kebiasaan atau menganulir LTM? Tentu saja bisa. Memori manusia merupakan mekanisme dinamis yang diasosiasikan dengan kegiatan otak dalam hal penyimpanan (storing), pengambilan (retaining), dan pemanggilan (retrieving) informasi mengenai pengalaman yang lampau. Oleh karena bersifat dinamis, memori dapat terus diperbarui, atau bahasa kerennya di-upgrade. Caranya dengan menerapkan pola baru disertai stimulus mental dan spiritual yang aktif sehingga membentuk kebiasaan baru. Mengubah kebiasaan tentu sangat sukar karena pada awalnya otak akan menengarai hal tersebut sebagai stimulus tidak menyenangkan. Namun, dengan adanya niat dan upaya terus menerus, kebiasaan tersebut lambat laun akan menyesuaikan.

Berikutnya, korelasi terbalik. Apa kaitannya ekonomi syariah dengan otak? Untuk menjawab hal ini, penulis perlu ‘memanggil’ memori tentang jawaban Ibunda ketika penulis menanyakan, “mengapa Ibu memilih ekonomi syariah?” Dengan bijaknya Beliau menjawab, “Segala sesuatu kalau berusaha akan ada hasilnya, namun yang paling penting adalah ketenangannya (hati dan pikiran)”. Sejuk sekali. Uang yang didapat –baik secara halal atau haram, sesuai syariah atau tidak-jika diputar untuk usaha tetap akan membawa hasil. Namun, melakoninya secara syariah lebih mendatangkan nilai plus, yakni kelegaan batin dan pikiran. Oleh karena itu, timbul persepsi bahwa ekonomi syariah sangat menguntungkan, tidak hanya di dunia, melainkan di akhirat pula. Tidak hanya ukuran materi, namun ketenangan jiwa dan pikiran yang lebih mahal harganya. Hal inilah yang kemudian menjadi sumbu emosi dan motivasi dalam menegakkan prinsip tersebut.

Untuk meyakinkan bahwa ekonomi syariah merupakan sistem yang menyenangkan dan menenteramkan, selain dari upaya individu juga diperlukan adanya upaya yang menimbulkan persepsi, emosi, dan motivasi positif secara massal, misalnya Gerakan Ekonomi Syariah atau ‘Gres!’ yang dimotori oleh Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah. Gerakan merupakan rangkaian kegiatan yang bersifat dinamis dan berkelanjutan. Tanda seru juga menggambarkan kesungguhan ataupun emosi yang kuat. Sehingga, ‘Gres!’ dapat dipahami sebagai gerakan dinamis yang dapat menuntun kebiasaan masyarakat agar sesuai dengan prinsip ke-Islam-an yang kokoh. Dengan demikian, diharapkan kegiatannya penuh GREget dan Semarak (akronim gres), juga diwarnai inovasi terbaru (gres=baru). Di sisi lain, pengembangan ekonomi syariah juga selayaknya terus menuju ke arah prinsip Islam yang kaffah atau menyeluruh. Jangan sampai implementasinya hanya mengekor ekonomi konvensional yang mengakibatkan persepsi masyarakat menjadi semakin buruk, bahkan menimbulkan trauma bahwa ekonomi syariah hanyalah ekonomi konvensional yang dibungkus ayat. Naudzubillah.

Terlepas dari belum sempurnanya sistem ekonomi syariah saat ini, apakah kita masih terus ingin berkubang di kebodohan, sementara kita telah diberi jalan yang terang? Biarkan ‘otak’ kita berpikir, tentunya dengan mengaktifkan kedua stimulus mental dan spiritual.



REFERENSI



Rolls, T. Edmund. 2000. Memory Systems in the Brain. Annual Review of Psychology, 51: 599-630 www.oxcns.org/paper/282_Rolls00g.pdf (diakses pada 3 Desember 2013).
Sangkan, Abu. 2011. Pelatihan Shalat Khusyu’. Jakarta: Yayasan Shalat Khusyu’ dan Manajemen Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia.