Sabtu, 12 September 2015

Kemacetan dan Etika Berlalu Lintas


Kebutuhan akan mobilitas sudah menjadi hal yang lumrah di dalam masyarakat kota yang dinamis. Yang menjadi sumber masalah adalah bagaimana cara dan perilaku selama melakukan mobilitas tersebut. Semakin besar sebuah kota, semakin agresif pula pengendaranya dalam memanfaatkan ruang jalan agar sampai di tujuan dengan cepat. Akibatnya, mereka acapkali mengesampingkan keselamatan dan kenyamanan bersama.

Kemacetan dapat menimbulkan stress orang yang berada di jalanan, sementara yang menyebabkan kemacetan adalah perilaku dari pengendara sendiri dan sesama pengguna jalan. Berdasarkan Anatomi Kemacetan yang dikeluarkan oleh Departemen PU (2009), penyebab kemacetan yang diakibatkan oleh situasi jalan raya yaitu perilaku penguna jalan dan penegakan hukum yang lemah. Hal ini juga menjadi perhatian Kepolisian, dimana salah satu dari 8 Quick Wins Polri memuat peran polisi sebagai penggerak revolusi mental dan pelopor tertib sosial di ruang publik.

Agar mencapai hal tersebut, hal pertama yang dilakukan polisi yaitu terus mengupayakan penanaman etika berlalu lintas kepada pengguna jalan. Berkendara yang baik memerlukan pengetahuan, pengalaman, dan etika berkendara. Mengendarai kendaraan bermotor hanya butuh waktu beberapa jam, tetapi untuk dapat disebut sebagai pengemudi yang baik memerlukan waktu yang lama untuk berlatih. Dengan demikian, pengemudi tersebut harus mendapatkan pengetahuan, mengetahui etika, dan merasakan pengalaman berlalu lintas yang tertib dan nyaman.

Kedua, polisi harus selalu mengawal arus lalu lintas, terutama di waktu-waktu rawan kemacetan. Perilaku pengguna jalan masih bergantung kehadiran dan ketegasan polisi dalam mengatur arus lalu lintas. Mayoritas pengendara menjalankan tertib berlalu lintas bukan atas kesadaran pribadi, tetapi takut berhadapan dengan polisi. Oleh sebab itu, kehadiran petugas lalu lintas masih sangat memengaruhi ketertiban lalu lintas di jalan.

Terakhir, polisi sebaiknya mengampanyekan gerakan ‘to move inside the box’. Dalam mengatasi masalah seringkali digunakan pola berpikir di luar kebiasaan atau to think out of the box. Di dalam berlalu lintas, justru harus diterapkan pola bergerak di dalam kotak, atau to move inside the box. Artinya, bergerak secara tertib sesuai dengan peraturan dan norma berlalu lintas yang berlaku. 

Rabu, 28 Januari 2015

Resolusi Hijau 2015: Aku, Lingkungan, dan Motivasi

Meskipun tahun baru sudah hampir lewat sebulan, tak ada salahnya menetapkan kembali capaian yang ingin saya raih tahun ini, atau lebih fasihnya, resolusi tahunan. Laiknya visi misi, resolusi saya juga meliputi segala dimensi, tetapi dalam tulisan ini saya hanya memfokuskan pada resolusi yang berkaitan dengan lingkungan. Ya, Resolusi Hijau!

Kepedulian pada lingkungan bukan pertama kali ini saya laksanakan, namun seperti sebuah tanaman yang harus terus dipupuk, disiram, dipangkas, serta diatur pencahayaannya agar tumbuh optimal. Tidak banyak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, resolusi saya tahun ini antara lain:

Resolusi Pertama: Penghematan penggunaan alat-alat elektronik dan energi di rumah
Sebagai seorang penulis, kehidupan saya lebih banyak dihabiskan di depan laptop atau tablet, wifi menyala sepanjang hari, dan kertas print yang menumpuk. Menulis di beranda dan menikmati semilir angin pepohonan barangkali akan lebih banyak saya lakukan daripada mengurung diri di kamar dengan ditemani pendingin ruangan. Untuk menghemat kertas, saya akan mengurangi keinginan untuk mencetak setiap draf tulisan. Hal ini sebelumnya cukup sulit karena saya merasa lebih teliti dan detail ketika membacanya dalam bentuk draf cetak. Selama beberapa bulan ini saya berusaha mengurangi kebiasaan tersebut dan tahun ini saya akan berjuang lebih keras lagi. Sebelum menuangkan ide di laptop/tablet, saya akan berusaha menyusun skema dan outline lebih rinci sehingga tidak banyak memakan waktu di depan laptop/tablet. Kemudian mendaur ulang kertas draf bekas menjadi notes.

Resolusi Kedua: Menghemat penggunaan bahan bakar dengan lebih banyak memanfaatkan kendaraan umum dan berjalan kaki
Alasan pertama dulunya karena memang penghematan bahan bakar. Namun setelah melakoninya secara kontinyu, saya banyak menemukan manfaat lainnya. Dengan menumpang kendaraan umum, saya lebih banyak menemukan inspirasi di jalan, mulai dari obrolan sesama penumpang, celotehan kondektur, sampai pemandangan di jalan. Selain itu, karena tak perlu menyetir sendiri, saya lebih fokus dan badan tidak terlalu capek.

Jika saya sedang berbelanja, saya lebih memilih untuk memarkir kendaraan di suatu tempat, lalu berkeliling dengan berjalan kaki. Selain menghemat bahan bakar, saya juga lebih menghemat waktu. Kegiatan ini biasanya juga saya lakukan sebagai active rest ketika badan terasa lelah setelah bepergian. Active rest (beristirahat dengan melakukan gerakan aktif) justru lebih efektif menghilangkan rasa capek dibandingkan dengan tidur (disebut passive rest) sebab aliran darah dan oksigen menjadi lebih lancar jika kita melakukan gerakan ringan. Dengan begitu, saya bisa melakukan memenuhi beberapa tujuan sekaligus: menghemat bahan bakar, mengurangi emisi dan polusi, sekaligus menyehatkan diri.


Resolusi Ketiga: Mencari dan menerapkan konsep rumah ramah lingkungan ketika melakukan renovasi rumah
Tahun ini kami berencana untuk merenovasi rumah dan ini merupakan saat yang tepat untuk mengaplikasikan konsep rumah yang ramah lingkungan. Hal yang mendasar yakni masalah ventilasi, sanitasi, tandon air, dan ruang hijau. Dengan konsep rumah ramah lingkungan, awalnya kami memang akan lebih repot karena harus mencari informasi lebih detail, menentukan desain dan material, juga mencari tukang yang tepat. Namun jangka panjangnya kami akan mendapati rumah yang nyaman, sejuk, dan lebih terasa homey.

Resolusi Keempat: Menjaga diri dari perilaku merusak lingkungan ketika berwisata
Mengapa saya harus menyebut tempat wisata secara spesifik? Karena obyek favorit saya selalu berhubungan dengan alam. Sangat mungkin keteledoran saya dapat menjadi sumber kerusakan bagi ekosistem flora-fauna dan mengakibatkan kerugian bagi penduduk di sekitarnya.

Obyek favorit saya adalah panorama laut. Biasanya saya melakukan snorkeling, bermain-main di pasir, makan seafood di pinggir laut, menyewa perahu dan berkeliling lokasi wisata.
Saat snorkeling, rasanya gemas melihat terumbu karang dengan warna-warna yang cantik. Saya ingin sekali mengambilnya dan menjadikan koleksi. Namun suatu saat, saya membaca artikel Terumbu Karang Peredam dan Adaptasi Bencana, yang menyebutkan kemampuan terumbu karang dalam meredam energi gelombang laut rata-rata mencapai 97%. Salah satu penelitinya, Dr. Michael Beck dari The Nature Conservancy (TNC) menambahkan bahwa terumbu karang berfungsi sebagai lini pertahanan pertama kawasan pesisir dalam menahan terjangan ombak, badai, dan kenaikan permukaan laut. Di samping itu, Indonesia adalah negara yang paling diuntungkan dalam perlindungan terumbu karang tersebut. Membaca laman tersebut, rasa 'ingin-ingin' saya untuk mengoleksi terumbu karang langsung berubah drastis. Hasrat saya tersebut bisa membawa petaka.

Selain itu, di tempat wisata, laut khususnya, keberadaan tempat sampah amat langka ditemui. Pengunjung lebih sering membuang sampah di sepanjang pantai atau melemparkannya ke laut. Oleh sebab itu, saya selalu menyimpan sampah saya sampai bertemu dengan tempat saya. Masalah ini terlihat sepele, namun isu vandalisme dan sampah selalu menjadi poin kritis yang menghiasi aksi dan kolom berita lingkungan.


Resolusi Kelima: Lebih aktif dalam menyebarkan semangat peduli lingkungan
Sendiri itu sunyi. Sendiri gampang mati.
Aktivitas yang saya lakukan tanpa melibatkan keluarga dan orang-orang di sekitar hanya akan berdampak minor, pun saya juga lebih cepat patah semangat. Oleh karena itu, saya akan lebih aktif dalam melakukan persuasi masalah lingkungan dan memasukkan aspek lingkungan dalam bahasan tulisan saya.

Resolusi Keenam: Selalu memperbarui motivasi dengan lebih banyak membaca artikel bertajuk kepedulian lingkungan, artikel-artikel pendukung, dan menikmati segala proses selama melaksanakan resolusi yang diikrarkan
Suatu tanaman, tanpa perhatian dan perawatan yang kontinyu akan layu dan mati. Begitu pula resolusi yang saya ikrarkan akan runtuh seiring berjalannya waktu. Pada dasarnya, resolusi beralaskan kebulatan tekad untuk melaksanakan sesuatu. Untuk mencapai tahap ini (kebulatan tekad) rasanya sulit dilakukan secara buta dan tanpa alasan yang jelas. Oleh karena itu, saya harus terus memperbarui motivasi saya agar resolusi tersebut konsisten, tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi supaya menjadi agenda rutin dan targetnya terus ditingkatkan. Salah satu upayanya dengan semakin rajin membaca berita dan artikel yang bermuatan perbaikan lingkungan. Salah satu portal inspiratif adalah milik The Nature Conservancy Program Indonesia (TNCPI) yang peduli dengan masalah lingkungan dunia dan memiliki program di Indonesia. Membaca kegiatan dan informasi yang dirilis TNCPI semakin membuka wawasan saya tentang aspek lingkungan di Indonesia.
Di samping topik lingkungan, saya juga akan lebih banyak membaca topik lain seperti kesehatan, arsitektur, ekonomi, dan sebagainya. Misalnya dengan mengetahui active rest di atas, saya lebih dapat menikmati naik kendaraan umum dan berjalan kaki karena tindakan itu selain bermanfaat bagi lingkungan juga menunjang kesehatan saya.

Bagi saya pribadi, motivasi ini sangat penting untuk semakin meyakinkan bahwa tindakan yang selama ini saya lakukan adalah benar, malah saya dapat memetik manfaat tambahan.



Senin, 01 Desember 2014

Ide Spot Wisata Suramadu

Jembatan Suramadu, jembatan penghubung antara Kota Surabaya dan Pulau Madura ini telah menjadi ikon wisata baru di Jawa Timur. Pengunjung tidak hanya berasal dari sekitar Surabaya-Madura saja, tapi tidak sedikit pengunjung luar daerah yang menyempatkan diri menikmati jembatan terpanjang di Indonesia ini. Sayangnya, spot (obyek) wisata di Suramadu tidak bervariasi. Wisatawan hanya disajikan pemandangan Jembatan Suramadu dan kalau ingin wisata kuliner yang menjanjikan hanya kuliner bebek. Di sini saya akan mengajukan beberapa spot wisata baru yang bisa dikembangkan di sekitar wilayah Jembatan Suramadu. Ide ini saya dapat ketika melakukan perjalanan ke beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri.

1. Restoran Apung
Konsep restoran apung ini sebenarnya adalah kapal yang direnovasi dan dialihfungsikan menjadi tempat makan. Pengunjung dapat menikmati santapan sambil berlayar di sekitar jembatan Suramadu. Untuk menghindari mabuk laut, saat pengunjung sedang makan, kapal masih merapat. Baru setelah semua pengunjung selesai menikmati hidangan, restoran ini memberi servis dengan mengajak berlayar ke sekitar Jembatan Suramadu. Suasana makan menjadi terasa lebih nikmat. Pengunjung juga dapat berfoto dari atas kapal dan menikmati pemandangan Jembatan Suramadu dari angle yang berbeda. 
Di malam hari, restoran ini menjadi pemandangan menarik bagi pengunjung di darat. Restoran ini dihiasi lampu warna-warni sehingga terlihat cantik ketika kapal-kapal restoran tersebut tengah berlayar.

2. Konohana Garten ala Suramadu
Konohana Garten adalah buffet restaurant di Oita, Jepang. Uniknya, restoran ini hanya menyajikan menu lokal masyarakat Oita dan bahan makanannya juga berasal dari wilayah setempat. Restoran ini tidak hanya sebagai tempat makan, tapi juga berfungsi sebagai display dan promosi bahan lokal. Di Suramadu juga dapat mengadopsi konsep ini, namun dengan penyesuaian, misalnya berbentuk Pujasera (Pusat Jajanan Selera Rakyat). Menunya berasal dari lokal Surabaya dan Madura dan bahannya pun memakai bahan wilayah asal.
Sepintas, konsep ini biasa-biasa saja, tapi efek rantainya cukup besar. Sebagai contoh, nasi yang disajikan di Konohana Garten berasal dari beras Oyama. Nasi ini rasanya nikmat sehingga beras dari wilayah Oyama menjadi terkenal dan permintaannya meningkat. Tetapi menurut pengakuan local guide kami, beras Oyama sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan beras wilayah lain, hanya saja penggunaannya di Konohana Garten mengangkat image-nya menjadi jenis beras unggulan.
Pujasera di Suramadu juga diharuskan menggunakan bahan asal. Misalnya nasi jagung khas madura, maka jagungnya harus berasal dari Madura. Hal ini merepotkan di awal karena sebenarnya jagung bisa didapat di mana-mana. Namun, hal ini akan menggeliatkan produksi jagung di Madura dan mendongkrak image jagung Madura. Hal ini dapat memunculkan branding produk, "ingat jagung, ingat Madura". Begitu juga dengan barang-barang lainnya.

3. Museum Suramadu
Museum Suramadu berfungsi sebagai wisata edukasi yang menceritakan fragmen sejarah dan proses pembangunan Jembatan Suramadu.
Bagi saya pribadi, museum merupakan spot favorit ketika mengunjungi tempat baru. Di antara museum-museum yang pernah saya kunjungi, Nanyue King Museum di Guangzhou, Tiongkok yang paling berkesan. Selain menampilkan koleksi sejarah, museum ini juga mengemas sejarah dalam bentuk animasi/grafis.
Jika diaplikasikan di Museum Suramadu, misalnya penjelasan perencanaan jembatan, daripada berupa deretan tulisan yang panjang, akan lebih menarik apabila dirangkum dalam animasi berdurasi pendek. Contoh lainnya, proses pembangunan jembatan. Dengan demikian, pengunjung mendapat gambaran yang lebih detail dan menarik. Animasi terakhir (sebelum pengunjung keluar) menyelipkan pesan moral dan himbauan bagi pengunjung agar turut menjaga jembatan Suramadu. Harapannya, setelah mengunjungi Museum Suramadu, pengunjung tidak hanya mengagumi jembatan Suramadu melainkan juga lebih menghargai keberadaan jembatan fenomenal ini.


Obyek wisata, selain memanjakan pengunjung, seyogianya turut menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar lokasi dan juga memberikan nilai edukasi. Oleh karena itu, ide spot wisata yang saya usulkan diutamakan yang menggunakan produk domestik dan dikemas dengan cara yang menarik.
Selain spot-spot wisata, hal yang penting adalah promosi dan informasi. Sebagus dan semenarik apapun suatu obyek wisata, tanpa kedua hal tersebut wisatawan menjadi kurang tertarik.
Wisatawan dari luar kota, begitu tiba di sarana transportasi (bandara, stasiun, terminal) langsung disambut dengan iklan Jembatan Suramadu, baik berupa poster, baliho, ataupun video. Sambutan iklan yang menarik akan membuat pengunjung berusaha memasukkan obyek wisata tersebut ke dalam agendanya.

Selasa, 15 Juli 2014

Pilih-Pilih Tinta Printer Aftermarket

Apa itu tinta printer aftermarket? 

Sederhananya tinta aftermarket adalah tinta printer yang digunakan setelah tinta bawaan printer sudah habis. Tinta aftermarket ini bisa memakai tinta yang direkomendasikan oleh pabrikan printer atau bisa juga tinta yang dijual oleh pihak ketiga. Tinta original printer relatif lebih mahal dibandingkan tinta non-original, makanya sebagian besar orang--khususnya di Indonesia--lebih senang menggunakan tinta aftermarket non-original. Tapi harus hati-hati juga karena tinta non-original umumnya memakai bahan pelarut utama dari campuran amoniak sehingga memudahkan korosi pada print head dan logam-logam di printer. Dalam jangka panjang justru akan mengurangi usia head unit printer tersebut dan biaya perbaikannya pasti jatuh lebih mahal.

Nah loh... Jadi harus bagaimana?

Kalau mau hemat, berarti harus cermat. Berhati-hatilah dalam memilih tinta. Perhatikan terlebih dahulu jenis printer yang dipakai, cek track record penyedia tinta, testimoni konsumen lain, dan sesuaikan dengan kebutuhan.

Salah satu penyedia tinta aftermarket yang memenuhi keempat kriteria tadi adalah tinta keluaran SUN Indonesia, pionir tinta refill dan Continuous Ink Supply System (CISS, disebut juga tinta infus) yang berdiri pada 2003. Jadi, SUN Indonesia bukanlah pemain baru di dunia per-tinta-an, yang sudah memiliki track record panjang dan telah mengalami fase trial and error. SUN Indonesia menggunakan tinta yang diproduksi oleh salah satu pabrik tinta terbesar di Korea, negara dengan variasi warna terkaya di dunia. Material tintanya pun memakai material tinta terbaik dari Jerman. Bahkan SUN Indonesia tersebut berani memberikan jaminan bahwa kualitas tintanya lebih baik dibandingkan tinta original.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, SUN Indonesia menyediakan berbagai jenis tinta sesuai dengan merk printer (Epson, Canon, HP, dan Brother) serta spesifikasinya (tinta dye, pigmen, sublime, dan art paper link). Kejelian ini juga yang membuat produk tinta SUN memberikan hasil yang optimal karena beda sakit tentu beda obatnya; beda tujuan, beda  pula kendaraannya. Berikut daftar tinta keluaran SUN Indonesia:


Tinta Refill untuk printer Epson 

Jenis tinta dye :
1. SUN Premium Plus Epson Dye Ink For L-Series
Dibuat khusus sesuai dengan spesifikasi Printer Epson L-Series (L110, L210, L310, L350). Tersedia dalam ukuran 100 ml.

2. SUN Premium Epson Dye Ink 
Dibuat khusus untuk printer Epson. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

3. SUN Premium Plus Epson Dye Ink 4-T
Dibuat khusus untuk Printer Epson tipe T11, T20, T30, T40, TX111, TX210, TX300F. tersedia dalam ukuran 100ml, 250 ml, dan 1 liter.

4. SUN Premium Plus Epson Dye Ink 6-R
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe R230, T60, 1390. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

5. SUN Premium Plus Epson Dye Ink For R2000
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe Stylus Photo R1900/R2000/PX-7V. Tersedia dalam ukuran 100 ml.

6. SUN Premium Plus Epson Dye Ink For R3000
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe Stylus Photo R1200/R2400/R4800/R2880/R3000. Tersedia dalam ukuran 100 ml.

7. SUN Specialist Epson Wide Format Dye Ink
Dibuat khusus untuk Printer Epson tipe 7900/7910/9900/9910 (11 color), 7700/7710/9700/9710 (5 color), 4800/4880/7800/7880/9800/9880/11880 (8 Color). tersedia dalam ukuran 100ml, dan 1 liter.

Jenis tinta Pigment :
1. SUN Premium Plus Pigment Ink 4-T
Dibuat khusus untuk Printer Epson tipe T11, T20, T30, T40, TX111, TX210, TX300F.Tersedia dalam ukuran 100ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus Pigment Ink 6-R
Dibuat khusus untuk Printer Epson tipe R230, R270, R290, T60, 1390. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

3 SUN Premium Plus Epson Pigment Ink For R2000
Khusus untuk Printer Epson tipe Stylus Photo R1900/R2000/PX-7V. Tersedia dalam ukuran 100ml, dan 1 liter.

4. SUN Premium Plus Epson Pigment Ink For R3000
Khusus untuk printer Epson tipe Stylus Photo R1200/R2400/R4800/R2880/R3000, tersedia dalam ukuran 100ml.

5. SUN Specialist Epson Wide Format Pigment Ink
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe 7900/7910/9900/9910 (11 color), 7700/7710/9700/9710 (5 color), 4800/4880/7800/7880/9800/9880/11880 (8 Color). Tersedia dalam ukuran 100ml, dan 1 liter.

Jenis tinta Sublime :
1. SUN Premium Plus Sublime Ink 4-T
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe T11, T20, T30, T40, TX111, TX210, TX300F. Tersedia dalam ukuran 100ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus Sublime Ink 6-R
Dibuat khusus untuk printer Epson tipe T60, 1390. tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter

Jenis tinta Art Paper Ink :
1. SUN Premium Plus Epson Dura-Ultra Ink
Dibuat khusus untuk cetak diatas kertas art paper dan segala jenis kertas coating (photo paper, silky photo paper, Inkjet paper) untuk printer Epson tipe T13, T30, T1100, T60, 1390. Tersedia dalam ukuran 100ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus Epson Dura-Ultra Ink For R2000
Dibuat khusus untuk cetak diatas kertas art paper dan segala jenis kertas coating (photo paper, silky photo paper, Inkjet paper) untuk printer Epson tipe R1900/R2000/PX-7V. Tersedia dalam ukuran 100 ml.

3. SUN Specialist Epson Wide Format Dura-Ultra Ink
Dibuat khusus untuk cetak diatas kertas art paper dan segala jenis kertas coating (photo paper, silky photo paper, Inkjet paper) untuk printer Epson tipe 4800/4880/7800/7880/9600/9800/9880/11880 (8 color). Tersedia dalam ukuran 100 ml dan 1 liter.

Tinta Refill untuk Printer Canon

Jenis tinta dye :
1. SUN Premium Canon Dye Ink
Untuk segala jenis printer Canon 4 warna (CMYK). Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus Canon Dye Ink
Untuk segala jenis printer Canon 4 warna (CMYK) dilengkapi dengan UV Protection, hitam yang lebih pekat, dan warna lebih cerah. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

Tinta Refill untuk Printer HP

Jenis tinta dye :
1. SUN Premium HP Dye Ink
Untuk segala jenis printer HP 4 warna (CMYK). Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

2. SUN Premium Plus HP Dye Ink
Untuk segala jenis printer HP 4 warna (CMYK) dilengkapi dengan UV Protection, hitam yang lebih pekat, dan warna lebih cerah. Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.

Tinta Refill untuk Printer Brother

Jenis tinta dye :
1. SUN Premium Plus Brother Dye Ink
Untuk segala jenis printer Brother 4 warna (CMYK). Tersedia dalam ukuran 100 ml, 250 ml, dan 1 liter.



Silahkan dicek dan disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau masih bingung, bisa konsultasi langsung dengan marketingnya di:
Web : www.sun-indonesia.com atau melalui 
Facebook : www.facebook.com/sun.center.indonesia
Twitter : @sunIndonesia
Instagram : sunindonesia

Jika sudah menjadi konsumen, jangan lupa untuk berbagi pengalaman dengan orang lain juga ke SUN Indonesia. Karena sharing itu bisa memberi pencerahan bagi (calon) konsumen lain dan SUN indonesia juga memerlukan feedback untuk terus memperbaiki kualitas produknya.








Senin, 14 Juli 2014

Pengalaman Menggunakan Layanan Provider Internet

Internet.

Sebuah kebutuhan yang dahulunya sekunder atau tersier sekarang membumbung menjadi kebutuhan primer. Top priority, seperti makan, minum, tidur, dan mandi. Begitu mata terbuka, entah tengah malam atau pagi hari, langsung mengusik-usik gadget. Online. Sebelum menutup mata pun diakhiri dengan internet, mengucapkan selamat malam kepada dunia. Internet, ruas penghubung yang tak dihalangi jarak, waktu, dan macet. Orang bisa mendapatkan berbagai informasi audio visual secara lengkap, berbagi momen dengan orang-orang tanpa harus bertatap muka, main game online juga terasa lebih semarak. Itulah sekelumit alasan mengapa orang begitu kecanduan dengan internet. Saya pun demikian.

Pertama kali menggunakan internet pribadi, saya menggunakan salah satu layanan provider CDMA. Hanya dengan 45 ribu, saya bisa menggunakan akses internet unlimited selama sebulan. Waktu itu jauh lebih murah dibanding vendor GSM yang menggunakan sistem kuota atau unlimited dengan FUP kecil. Meskipun modem berkali-kali hilang, saya masih setia menggunakan layanan yang sama sampai akhirnya... Laptop saya yang rusak! Akhirnya saya hanya menggunakan tablet. Hingga sekarang saya masih nyaman dengan tablet dan belum terpikirkan untuk menggantinya dengan laptop baru. Lebih ringan dan ringkas. Tapi karena tablet tidak kompatibel dengan modem dan hanya mendukung mini simcard GSM membuat saya harus membeli wifi router. Internetnya tetap menggunakan provider CDMA lama. Masih setia.

Ternyata dunia sudah berubah, termasuk dunia internet. Saudara-saudara saya yang menggunakan provider yang sama terus mengomentari betapa leletnya internet yang masih saya pakai itu. Saya yang termasuk tipe "kalau sudah cocok dengan sesuatu, saya tidak akan mencari yang lain" hanya bisa berkata, "oh ya?". Pada akhirnya saya pun merasakan leletnya juga. Saya mulai coba-coba pakai layanan GSM. Awalnya hanya tethering dari hp dengan paket 49 ribu/bulan unlimited. Beneran, FUP-nya kecil tapi sinyal stabil. Terus-terusan tethering dari hp membuat hp cepat panas dan batere tidak tahan lama, saya pun harus menggunakan mini simcard. Customer service tablet saya menyarankan untuk membeli mini simcard di galeri providernya. Uh, repot amat. Saya pun memotong simcard biasa menjadi mini simcard. Percobaan pertama gagal, saya memotong hampir semua bagian kecuali bagian kuningnya. Tentu saja kekecilan di slot sim. Kemudian saya googling cara memotong mini simcard, ketemu. Potong-potong lagi, masih gagal lagi. Di percobaan ketiga, baru berhasil. Perfecto! Saya bisa merasakan nyamannya berinternet dan mengamini kalau provider sekarang lebih mending daripada yang pertama dulu.

Saya lalu terusik, bagaimana dengan layanan gsm yang lain? 

Setelahnya saya menjadi rajin membanding-bandingkan harga, kuota, FUP, dan kecepatan dari beberapa provider gsm. Saya punya beberapa mini simcard untuk membanding-bandingkannya secara langsung. Biasanya saya tes dengan paket harian, entah kuota atau unlimited, mana yang lebih cepat. Akhirnya saya pun tertarik dengan paket internet 29.900/bulan dengan kuota 8 GB. Kecepatan rata-ratanya sampai 300 kb perdetik. Saya benar-benar terkesima. Saya yang dulu sudah puas dengan kecepatan rata-rata 6-25 kb/detik tak menyadari kalau itu standarnya kira-kura. Kelemahan paket kuota 8 GB itu adalah 'masa tayangnya'. Kuota 3,4 GB bisa dipakai di jam 1-6 pagi, 4 GB untuk jam 9-5 sore, sementara waktu sisanya hanya disediakan kuota 600 MB. Benar-benar tidak cocok untuk karyawan atau mahasiswa yang sehari-hari menggunakan wifi gratis di kantor/kampus. Tapi bagi saya yang bekerja dari rumah, pola seperti itu tak banyak masalah. Antara jam 6-9 pagi saya bisa beraktivitas lain, malam hari saya puas dengan bekerja offline. Tapi pada akhirnya tetap saja timbul masalah. Kalau sedang diburu deadline tentunya harus terus online di jam-jam prime time. Padahal kuotanya minim sekali. Sesekali saya menggunakan paket internet unlimited harian. Timbul lagi niat untuk menoambah atau mengganti paket internet yang lain. Saya masih suka dengan paket yang sekarang dan mau menambahkannya dengan paket provider lain yang menawarkan paket smartphone 35 ribu/bulan unlimited plus bonus telepon dan sms ke sesama provider. Pagi buta dan jam efektif saya menggunakan kuota 8 GB, malam hari pakai paket unlimited. Totalnya hanya 65 ribu sebulan. Saya sudah puas.

Tapi... Seandainya masih ada penyedia layanan internet yang lebih inovatif lagi, dengan harga dan kecepatan yang memadai, mungkin lagi-lagi saya beralih hati. Inovasi yang membuat saya kembali bertindak "kalau sudah cocok dengan sesuatu, saya tidak akan mencari yang lain".

Kamis, 05 Juni 2014

Review dan Ide Tagline suara.com

”
Suara.com merupakan portal berita yang baru hadir untuk meramaikan portal-portal berita di dunia maya. Secara umum, tampilan website suara.com terlihat sumringah dengan pemilihan warna-warna cerah. Tampilan itu membuat pembaca menjadi bersemangat untuk melirik isi beritanya. 

Beberapa artikelnya menggunakan judul berita "bla bla bla ini". Misalnya di kanal Otomotif, terdapat berita "Orang Ini Bikin 'Batmobile'-nya Sendiri" atau di kolom Bisnis "Ini Cara Pemerintah Menggenjot Penerimaan Negara" yang diterbitkan pada 6 Juni 2014. Metode tersebut bisa meringkas judul sekaligus menarik perhatian pembaca untuk mengintip apa "ini" yang dimaksud. Tapi jika sebagian besar berita ditulis dengan cara demikian, malah berdampak negatif karena seperti endorsement berita-berita gosip.

Umumnya, kanal berita yang populer di kalangan pembaca adalah politik, hiburan (entertainmen), dan bisnis. Di sini saya akan mereview kanal yang relatif kurang populer kecuali bagi orang yang memang memiliki hobi di bidang itu, seperti kanal berita otomotif dan teknologi. Kalau suara.com bisa mengemas informasinya  dengan menarik, orang yang bukan penghobi pun akan tersedot perhatiannya untuk menyimak berita-berita tersebut. Di portal berita suara.com saya mendapatkan ketertarikan itu. Meskipun saya tidak memiliki hobi dan ketertarikan khusus di bidang otomotif, tapi dengan membaca berita di suara.com, saya menjadi "oh, ada juga yang kayak gitu ya" dan "oh" "oh" lainnya.

Sebagian besar berita di suara.com, terutama di kanal news internasional dan teknologi, mengutip dari sumber berita lain. Meskipun begitu, suara.com mencantumkan referensi beritanya dengan fair dan sumber beritanya merupakan portal berita yang bisa dipercaya seperti BBC, Dailymail, Reuters, dan sebagainya. Selain itu, transliterasinya begitu "halus". Pembaca tidak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami maksud berita yang ditulis. Artikelnya dikemas dengan begitu ringkas tapi tetap memberikan informasi 5W+1H secara komplit. Sebagai contoh, artikel bertajuk "Orang Ini Bikin 'Batmobile'-nya Sendiri" (5 Juni 2014) yang mencuplik tulisan dari dailymail.co.uk  (dirilis 4 Juni 2014).

Yang menarik dari penyajian berita di suara.com, penulis (penerjemahnya) bisa meninggalkan "bom" di akhir tulisan. Ruben Setiawan, sang penulis, menyimpan fakta menarik terkait replika batmobile tersebut yang disampaikan di akhir artikel. Bahwa mobil replika itu tak bisa bergerak karena dibuat tanpa mesin. Saya tersenyum simpul ketika membaca "bom"-nya. Kreatif. Ketika membaca berita aslinya di dailymail, saya merasakan sensasi yang berbeda. Di tulisan aslinya, pembaca bisa mendapatkan informasi lebih detail dan dipaparkan secara naratif lengkap dengan foto kronologisnya. Tapi, pembaca tidak akan mendapati "bom" yang membuatnya terasa spesial.

Di kanal berita tekno terdapat lini berita tentang Gadget, Internet, Sains, dan Tekno. Saya paling suka dengan kolom "Sains" yang jarang saya temui di portal online lain. Contohnya tulisan "Peneliti Irlandia Temukan Spesies Burung Baru di Sulawesi". Saya suka dengan berita yang diambil dari hasil penelitian yang menunjukkan kredibilitas informasinya. Meskipun, lagi-lagi tulisan tersebut mengutip dari sumber lain yakni www.independent.ie. Namun menurut saya, berita pendukung yang ditulis oleh jurnalis suara.com sangat kurang. Sebagai contoh, tulisan tentang penemuan burung baru tersebut, alangkah baiknya jika jurnalis suara.com menulis/menyajikan "berita terkait" yang memberikan informasi tambahan. Misalnya dengan membuat tulisan tentang spesies burung cabai atau Kawasan Taman Nasional Laut Wakatobi yang menjadi tempat hunian burung tersebut. Dengan begitu, wawasan pembaca menjadi bertambah serta jurnalis suara.com tidak terkesan malas karena hanya mengutip mentah-mentah apa yang disampaikan sumber beritanya. Jika informasi tambahan tersebut tidak dikupas oleh tulisan asal, maka jurnalis suara.com juga tidak berinisiatif menyajikan beritanya.

Fungsi "berita terkait" sangat penting agar pembaca membaca artikel lain yang bisa memberi tambahan informasi tentang suatu topik secara lengkap. Membaca berita online berbeda dengan membaca berita dalam bentuk kertas. Pembaca berita online cenderung legih senang membaca berita yang singkat namun dapat merangkum semua informasi yang dibutuhkan. Satu artikel yang dijejali berbagai informasi  hanya akan membuat orang malas membaca. Di sinilah fungsi "berita terkait" untuk membagi-bagi subyek berita juga untuk memberikan link informasi yang detail bagi pembaca. 

Semoga ke depannya suara.com dapat menjadi portal berita online yang aktual dan semakin "berisi".


Tagline: Resonansi Berita Teraktual



   ayok ikutan lomba review & tagline . Cek infonya di
Logico @logico14

Sabtu, 26 April 2014

AFTA Sangat Menguntungkan, Tapi...

ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang akan dimulai per Januari 2015 nanti akan membuat gebrakan besar bagi aktivitas ekonomi negara-negara anggota ASEAN. AFTA akan mengarahkan pasar regional di ASEAN menuju pada perwujudan pasar tunggal. Dengan begitu, produk-produk yang dihasilkan oleh anggota ASEAN relatif lebih bebas keluar masuk antar sesama negara anggota, seakan-akan pasar domestik sendiri. Demikian pula masalah arus investasi. Investor akan memeroleh kemudahan dalam menanamkan modalnya. Selain itu, mobilitas tenaga kerja lebih mudah dan cepat.

Dalam kondisi ini, ke depannya dapat dibayangkan kita akan gampang mendapati beras dari Vietnam tanpa prosedur impor yang berbelit-belit. Investor perkebunan dari Malaysia akan semakin bertebaran di Indonesia. Kita mungkin juga akan mendapati Nanyang Technological University of Singapore membuka cabang di Jakarta. Barangkali juga kita menemui perawat-perawat dari Myanmar bekerja di rumah sakit Indonesia. Sangat mungkin juga, warga negara Thailand menjadi pemilik resor di Labuan Bajo, tanpa harus berkongsi dengan WNI. Sebaliknya, produk barang dan jasa yang diproduksi oleh Indonesia juga akan leluasa menembus pasar anggota ASEAN.
Keberadaan AFTA jelas sangat menguntungkan, tapi harus dilihat terlebih dahulu siapa yang terlibat dan siapa yang menikmati perputaran aktivitas ekonominya.

Secara sederhana, aktivitas ekonomi dapat dibagi menjadi tiga mata rantai, yakni produksi, distribusi, dan konsumsi. Hal ini akhirnya memunculkan tiga pelaku seperti produsen di skala produksi, disebut distributor jika bermain di ranah distribusi, dan menjadi konsumen apabila hanya melakukan konsumsi.
Di antara ketiga pelaku ekonomi tersebut, yang paling diuntungkan dari keberadaan AFTA adalah konsumen karena semakin beragamnya pilihan produk. Sebelumnya konsumen lebih banyak dihidangkan produk lokal, namun setelah implementasi AFTA, mereka memiliki pilihan yang lebih luas. Di samping itu, produsen akan semakin bersaing untuk memenangkan hati konsumen. Vendor suatu produk akan terus berinovasi dan memberikan harga yang kompetitif agar dapat terus bertahan.
Misalnya ketika produk China mulai menjamur di Indonesia setelah berlakunya perjanjian ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) pada awal 2010 silam, terjadi gelombang perubahan selera yang besar, terutama produk gadget dan hortikultura. Vendor gadget yang sudah memiliki brand besar di Indonesia pun akhirnya berupaya 'menyesuaikan diri' dengan produk asal China yang memang menyasar pada segmen konsumen kelas menengah ke bawah. Demikian pula produk hortikultura, terutama buah-buahan. Konsumen buah akhirnya semakin akrab dengan pear xiang lie, pear ya lie, apel fuji, jeruk sweet ponkam, dan sejenisnya. Pedagang sendiri mengakui, buah-buahan asal China tersebut lebih banyak dicari konsumen karena keunggulan penampilan, rasa, serta harganya murah. Nantinya, ketika AFTA sudah berjalan, konsumen Indonesia pun akan semakin familiar dengan produk pertanian dari Thailand yang sudah terkenal keunggulan varietasnya.

Lalu, bagaimana dengan distributor?

Distribusi juga akan menjamur dengan sendirinya asalkan permintaan konsumen terus mengalir. Apalagi dengan semakin mudahnya keberadaan toko online sehingga barang-barang luar negeri nan lucu menggemaskan lebih gampang diperoleh dibandingkan kerajinan lokal. Buah-buahan impor pun, asalkan permintaan konsumen tinggi, distributor akan dengan senang hati memasok buah-buahan tersebut meskipun mengandung bahan kimia berbahaya. Dengan kata lain, pelaku yang bergerak di jalur distribusi baik importir, pedagang besar, agen, dan pedagang eceran justru semakin diuntungkan karena dapat menjual produk yang relatif lebih tinggi permintaannya. Jika produk lokal sedang booming, maka produk asli Indonesia menjamur di pasar. Sebaliknya jika produk asing yang naik daun, maka distributor tak perlu bingung karena proses penjualannya pun lebih mudah.

Produsen bagaimana?

Sebenarnya keberadaan AFTA sangat diharapkan untuk menimbulkan iklim kompetisi yang produktif. Adanya persaingan akan memunculkan inovasi kreatif atau yang dikenal sebagai creative destruction, di mana hanya sesuatu yang terus berinovasi saja yang dapat bertahan dan menggeser sesuatu yang sudah mapan. Paradigma ini menekankan pentingnya suatu kerusakan pada 'tatanan lama' agar timbul pemikiran untuk membuat sesuatu yang baru. Hal inilah yang mendasari adanya inovasi. Produsen di Indonesia tentu akan sangat diuntungkan pula apabila dengan masuknya produk dari negara ASEAN membuat mata mereka terbuka dengan kelemahan produknya yang berujung pada timbulnya keinginan untuk membuat produk yang lebih baik.  akan kontraproduktif apabila dengan masuknya produk impor, produsen menjadi kalang kabut dan memilih menghentikan usahanya.

Contoh terbaru misalnya aksi pemogokan pedagang tempe dan tahu pada Agustus-September 2013 lalu. Jika kita telusuri, penyebabnya memang ketersediaan bahan baku kedelai lokal yang setiap tahun kurang mencukupi, sehingga ditutup dengan impor kedelai yang harganya cukup murah dan ukurannya lebih besar. Selama bertahun-tahun kita melakukan itu sehingga terbiasa dengan pasokan kedelai impor. Baru ketika terjadi lonjakan harga kedelai impor tersebut, semua langsung ribut karena adanya ketergantungan yang tinggi. Produsen tahu tempe mogok berproduksi, sementara pemerintah baru 'terpikirkan' untuk mendorong kembali pertanian kedelai domestik.

Seharusnya kita berkaca pada Malaysia dan Thailand. Pada dekade 80-an sistem pendidikan mereka jauh lebih buruk dibandingkan Indonesia sehingga mereka harus 'mengimpor' tenaga pendidik dari Indonesia. Namun, Malaysia tidak terlena dengan keberadaan guru impor. Mereka terus membina sistem pendidikannya, belajar dari metode pembelajaran guru Indonesia. Dan hasilnya sekarang? Justru pelajar-pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Negeri Jiran itu.

Demikian pula dengan Thailand yang sangat termahsyur dengan budidaya dan rekayasa tanaman. Konon, buah-buahan induknya berasal dari Indonesia yang dikembangkan sedemikian rupa, sehingga muncullah berbagai varietas baru seperti saat ini, seperti durian monthong, jambu bangkok, dan beberapa buah lainnya. Sekarang ini, untuk jenis buah mangga saja lahir varietas mangga namdokmai, chokanan, mahachanok, mundenkau, dan nama-nama berbau Thai lainnya.

Kembali ke produksi dalam negeri, kita sering terlena dengan produk dan jasa asing sehingga lupa untuk mengambil pelajaran dari produk asing yang baik itu. Kerapkali yang terjadi di Indonesia adalah kurang adanya kebijakan dan insentif dari pemerintah yang mendorong pelaku domestik agar terus berinovasi. Produsen lain yang menggunakan produk mereka sebagai bahan baku malah balik badan dan memilih produk impor yang sedang murah serta stoknya melimpah. Distributor pun semakin gencar mengenalkan produk impor di gerai-gerainya. Konsumen pun dengan polosnya sumringah melihat produk impor yang murah dan menarik. Dalam kondisi ini, bukankah produsen lokal seakan-akan dikhianati 'keluarganya' sendiri? Tidaklah mengherankan apabila produsen tersebut memilih menyerah karena lapangan produk itu sudah tidak menjanjikan lagi.

Kesimpulannya, AFTA memang akan memberikan berbagai pilihan produk bagi konsumen dan membuka jalur pendapatan baru bagi distributor, tapi produsen harus didorong untuk terus berinovasi, mau belajar dari produk asing, dan jangan mudah menyerah agar tak tergilas dalam persaingan.

Produksi, distribusi, dan konsumsi adalah konteks ekonomi mikro. Dalam konteks makro, saya pribadi ingin menyarankan agar kita meninggalkan ukuran pendapatan nasional yang masih memakai standar GDP (Gross Domestic Product) dan mulai mengimplementasikan (Gross National Product). GDP hanya menghitung pendapatan yang dihasilkan di dalam negara itu dalam satu periode, tanpa menelusuri siapa pemilik modalnya, dari mana asal tenaga kerjanya, ataupun perusahaan milik siapa. Di dalam pasar bebas yang memudahkan mobilitas faktor produksi, maka akan terjadi tumpang tindih perhitungan pendapatan. Ke depan kita mungkin akan tertipu dengan nilai ekspor perkebunan sawit misalnya karena terjadi lonjakan produksi yang tajam. Namun jika ditelusuri, ternyata pengelolanya adalah perusahaan asal Malaysia, otomatis pendapatan riilnya lebih banyak lari ke Malaysia. Barangkali resor-resor di lokasi pariwisata semakin menjamur, tetapi jika ditilik pemiliknya ternyata bukan milik orang Indonesia. Eksplorasi pertambangan bertambah kencang, tetapi investornya orang asing, tenaga kerjanya pun lebih banyak mengundang karyawan asing yang lebih kompetitif. Lalu bagaimana jadinya wajah asli pendapatan nasional kita?

Poin penting dalam penghitungan pendapatan nasional adalah nilai tambah (value added). Entah impor atau ekspor, maka yang penting adalah nilai tambahnya. Oleh karena itu, masyarakat di dorong untuk meningkatkan nilai tambah suatu produk. Meskipun suatu barang diperoleh secara impor, asalkan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi produk baru akan meningkatkan nilai tambah produk itu sendiri. Misalkan kita mengimpor komponen elektronik dari Vietnam, asalkan barang tersebut dirakit di Indonesia, maka akan timbul nilai tambah. Tapi jika barang yang diimpor sudah built in, tidak akan banyak nilai tambah yang ditimbulkan.

Demikian pula dengan produk ekspor. Sebenarnya kita sangat kaya dengan faktor produksi, terutama faktor produksi alam dan tenaga kerja. Bahkan negara kita mendapat embargo ekonomi pun kita masih bisa eksis karena pada dasarnya barang-barang yang ada di dunia ini merupakan produk turunan pertanian dan pertambangan. Kita bisa mendapatkan bahan bakunya dengan mudah di Indonesia. Jadi sangat disayangkan kalau produk yang kita ekspor adalah bahan baku mentah, minyak mentah, kayu gelondongan, TKI-TKW yang kurang terdidik karena nilai tambahnya kecil.

Kesimpulannya, dengan adanya kemudahan masuknya faktor produksi dari negara ASEAN lain, akan terjadi hentakan dalam aktivitas ekonomi, tapi kita harus berhati-hati dalam penghitungan porsi pendapatannya dan berupaya untuk meningkatkan nilai tambahnya.

Jadi, kata kunci dalam persaingan bebas seperti AFTA ini adalah adanya variasi pilihan, inovasi tiada henti, dan nilai tambah. Agar produk barang dan jasa kita eksis baik di pasar domestik dan negara ASEAN lainnya, maka harus ada upaya untuk terus berinovasi dan meningkatkan nilai tambah. Dengan begitu, aktivitas ekonomi baik mikro maupun makro akan terus sehat dan AFTA benar-benar sangat menguntungkan, tanpa ada 'tapi' lagi.


Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana